24 February 2018

Persilangan Akulturasi Dari Kehidupan Orang-Orang Tionghoa Dengan Masyarakat Lokal di Lamongan

Persilangan Akulturasi Dari Kehidupan Orang-Orang Tionghoa Dengan Masyarakat Lokal di Lamongan

Jika membahas tentang orang-orang Tionghoa di Jawa Timur kebanyakan yang sering ditulis berkawasan di Surabaya. Surabaya merupakan daerah yang paling banyak disinggahi oleh orang-orang Tionghoa. Berbeda dengan Lamongan komunitas Tionghoanya sangat minoritas. Jika menelisik kedatangan orang-orang Tionghoa di Lamongan, belum ada data yang valid tentang keberadaannya pertama kali di Lamongan. Keberadaan orang-orang Tionghoa diyakini sudah ada pada akhir abad ke-19 atau awal abad ke-20. Kebanyakan mereka bermukim di daerah-daerah pesisir Lamongan yang mana kawasan tersebut berdekatan dengan Pelabuhan. Disana orang-orang Tionghoa berdatangan ke Lamongan awalnya tidak memiliki tujuan dan sekiranya berada di Lamongan bisa memperbaiki perekonomiannya.[1] Tetapi lambat laun mereka menikahi masyarakat lokal Lamongan dan merasa nyaaman dan betah untuk tinggal lebih lama. Dari sini akulturasi terjadi akibat adanya perkawinan campuran.

Keberadaan orang-orang Tionghoa di Lamongan mengalami penurunan akibat adanya GESTAPU (Gerakan 30 September) pada tahun 1965 banyak dari mereka melarikan diri atau kabur ke kawasan yang lebih banyak komunitas Tionghoanya yaitu Surabaya. Mereka merasa terancam akan adanya GESTAPU ini jika masih berada di Lamongan.[2] Bahkan akibat dampak dari GESTAPU ini masih berlaku sampai masa sekarang. Masyarakat Tionghoa di Lamongan sampai sekarang masih trauma akibat tragedi tersebut. Masyarakat Tionghoa di Lamongan sekarang lebih sedikit yang berada di daerah pesisir.

Adanaya kebijakan dari pemerintah pada tahun 1966-1967 terhadap orang Tionghoa ini membuat mereka dengan terpaksa melakukan pembauran dengan masyarakat setempat. Mereka lakukan untuk menghindari akibat yang tidak diinginkan dari pandangan masyarakat terhadap orang-orang Tionghoa keturunan karena sosial ekonomi yang berbeda dan bayang-bayang komunis yang sedikit banyak masih dirasakan oleh orang-orang Tionghoa keturunan. Akibat dari peraturan ini membuat anak-anak mereka sudah terbiasa dengan adanya peraturan tersebut sampai sekarang, walaupun sudah dihapuskannya kebijakan tersebut begitupun juga apa yang dirasakan oleh masyarakat Tionghoa di Lamongan.[3]

Akulturasi yang terjadi di Lamongan ini tidak hanya untuk orang-orang Tionghoanya saja, melainkan masyarakat lokal pun juga terkena imbasnya. Di Lamongan sendiri masyarakat setempatnya banyak yang mengadopsi budaya-budaya dari Tionghoa seperti Barongsai, bahasa Mandarin dan arsitektur bangunan yang menjadi cirri khas orang Tionghoa. Sedangkan masyarakat Tionghoanya mengadopsi kuliner, kebudayaan dan agamanya. Sehingga di Lamongan ini terjadinya simbiosis mutualisme[4]  antara orang-orang Tionghoa dengan masyarakat lokal di Lamongan.

Komunitas Tionghoa di Lamongan ini memliki agama yang beragam. Bagi para Tionghoa di Lamongan yang beragama islam sebagaian sudah menunaikan ibadah haji dan juga ada organisasi PITI (Persatuan Islam Tionghoa Indonesia) yang bercabang di Lamongan. Tetapi organisasi PITI di Lamongan ini tidak berjalan saat ini karena sebagaian anggotanya tidak mau menunjukkan identitas sebagai orang Tionghoa. Walaupun tidak berjalan, kekerabatan antara sesama Tionghoa islam di Lamongan masih terjalin komunikasinya.[5] Mereka mengikuti agama islam karena adanya unsur perkawinan campuran dengan masyarakat lokal setempat. Bagi masyarakat Lamongan yang beragama Islam senang dengan keberadaan komunitas Tionghoa muslim karena mereka menunaikan ibadahnya selalu tepat waktu dan berjamaah di Masjid. Bahkan untuk masyarakat Lamongan sendiri menggemari tradisi seni pertunjukkan orang-orang Tionghoa yaitu Barongsai. Pertunjukkan ini diadakan oleh masyarakat islam di Lamongan untuk merayakan acara Tahun Baru Imlek sebagai bentuk menghormati keberagaman agama. Barongsasi ini diperankan bukan dari komunitas Tionghoa melainkan masyarakat lokal Lamongan.

Gambar 1:

 

 

 

 

 

 

Keterangan: Pertunjukkan Barongsai di depan kantor PCNU Lamongan

Sumber: Koleksi Foto Pribadi dari Ainul Abid Tio Putra

Bagi komunitas Tionghoa yang tidak beragama islam, mereka tetap mengikuti tradisi, hajatan, ataupun acara-acara bagi masyarakat islam. Ketika hari raya Idul Fitri mereka yang non islam ikut merayakan dan mengikuti tradisinya yaitu saling maaf-memaafkan ke tentangga ataupun kerabatnya. Jika ada acara tahlilan ataupun acara yang berkategori muslim mereka pun mengikutinya. Bahkan ada yang Tionghoa non-muslim menjadi sinoman.[6] Bagi masyarakat lokal Lamongan berbaur dengan masyarakat Tionghoa sangat menyenangkan.[7]

Kehidupan Tionghoa Peranakan di Lamongan sangatlah berbeda dengan di Surabaya. Mereka tidak sering menjalankan tradisi-tradisi kebudayaan Tionghoa semestinya. Mereka mulai meninggalkan tradisi seperti Ceng Beng, Cap Go Meh, ataupun tradisi Tionghoa lainnya. Untuk Tahun Baru Imlek kadang masih menjalankan dengan tujuan untuk menghormati masyarakat Tionghoa yang ketika berkunjung ke Lamongan. Perbedaan agama tidak membuat Tionghoa Peranakan untuk tidak bisa membaur dengan masyarakat sekitarnya. Sebaliknya, mereka menjalankan tradisi-tradisi agama yang tidak dianutnya. Seperti yang telah dijelaskan diatas tahlilan, selametan, ataupun lainnya mereka mengikutinya. Mereka menganggap agama dan budaya itu sama tidak ada perbedaan. Dalam keorganisasian ataupun perkumpulan mereka tetap mengikuti seperti perkumpulan PKK (Pembinaan Kesejahteraan Keluarga). Mereka lebih merasa nyaman jika dianggap sebagai orang Jawa daripada orang Tionghoa.[8] Bagi orang-orang Tionghoa peranakan di Lamongan, mereka tidak mempunyai nama Cina seperti halnya masyarakat Tionghoa lainnya. Mereka sudah lama tinggal dan lahir di Lamongan, bahkan keturunan Cinanya sebagaian banyak yang berasal dari kakek neneknya. Perbedaan etnisitas tidak menyurutkan masyarakat Tionghoa di Lamongan untuk bergaul dengan masyarakat lokalnya. Mereka tetap menjalankan hidupnya secara rukun dan tidak ada pendiskriminasian.[9] Sebagaian masyarakat Tionghoa yang peranakan merasa sedikit sensi jika ada yang menanyakan kecinaannya karena mereka lebih nyaman dipanggil dengan sebutan Jawa ataupun pribumi. Mungkin dampak dari adanya genosida pada tahun 1965-1967 bagi masyarakat Tionghoa yang masih mengalami trauma sampai sekarang. Mereka ingin diakui sebagai orang Jawa atau pribumi karena sudah lama bahkan ada yang sampai lahir di Lamongan.[10]

Pergaulan orang-orang Tionghoa yang totok di Lamongan tidak jauh berbeda dengan Tionghoa peranakan. Mereka bisa berbaur dengan siapa saja asal bisa bikin bahagia, merasa nyaman dan untuk menyesuaikan diri dengan masyarakat sekitarnya. Mereka bersekolah di Sekoalahan yang berbasis Negeri berbeda dengan masyarakat Tionghoa di Surabaya yang memilih untuk sekolah yang khusus untuk orang-orang Tionghoa. Kebudayaan yang dijalaninya pun masih menyukai kebudayaan masyarakat lokal seperti pertunjukkan Wayang. Memilih untuk tetap tingal di Lamongan karena dalam perekonomiannya masih menguntungkan daripada di Surabaya yang dianggap banyak pesaingnya. Tetapi yang membedakan kebudayaan dengan Tionghoa peranakan adalah masih menjalankan tradisi Tionghoa yaitu Ceng Beng, Cap Go Meh dan Tahun Baru Imlek. Mereka menjalankan tradisinya tidak di Lamongan melainkan di Surabaya. Setiap hari minggu mereka berkumpul di Surabaya dengan keluarga besarnya yang berada di lain tempat.[11]

Di Lamongan sendiri pemukiman Pecinan tidak berada di satu titik pusat. Mereka tersebar di berbagai tempat ada yang di Babat, di kotanya, bahkan masih ada sebagaian sisanya yang berada di daerah pesisir Lamongan. Bentuk arsitektur rumah Tionghoa totok dan Tionghoa peranakan berbeda. Untuk yang peranakan mulai menghilangkan identitas kecinaannya sedangkan yang totok masih melestarikan. Di tempat kotanya terdapat sebuah kampung yang sebagaian masyarakat sekitar menyebutnya kampung pecinan. Kampung ini didominasi oleh masyarakat Tionghoa. Bahkan di depan kampungnya di kelilingi toko-toko atau usaha dari masyarakat Tionghoa. Kampung tersebut berdekatan dengan pasar yang sebagaian masyarakat Tionghoanya berjualan disana.

                                    Gambar 2:

 

 

 

 

 

 

 

Keterangan: Kampung yang diyakini sebagai Kampung Pecinan di Lamongan oleh masyarakat setempat karena bentuk arsitektur kecinannya.

Sumber: Koleksi Foto Pribadi.

Terdapat suatu tempat wisata yang bentuk arsitekturnya menggunakan gaya kecinaan. Tempat wisata ini terletak di Lamongan selatan di Istana Gunung Mas Desa Tugu, Kecamatan Mantup, sekitar 20 km sebelah selatan Lamongan Kota. Dari arah alun-alun Lamongan kota, hanya perlu mengikuti Jalan Sunan Drajat ke arah selatan. Warga sekitar memberi nama wisata ini dengan sebutan “Gunung Mas” karena bebatuan bekas tambang di bukit ini berwarna kekuningan. Di dalam wisata ini ada rumah-rumah hias, tempat santai, rumah panggung, kantin, kolam ikan, bahkan kandang hewan piaraan seperti ayam, kalkun, burung dara, dan kelinci. Sekilas rumah-rumah hias dini mirip dengan kampung pecinan sebab banyak dihiasi lampion dan unsur warna merah.[12]

Gambar 3:                                               Gambar 4:













 

 

 

 

Keterangan: Merupakan Wisata di Lamongan yang mengadopsi arsitektur kecinaan.

Sumber: https://lamonganoke.wordpress.com

Di Babat sendiri terdapat suatu makanan khas yang diyakini berasal dari Babat. Makanan ini disebut dengan Wingko Babat. Wingko ini merupakan makanan dari percampuran tradisi Tionghoa dengan tradisi Jawa. Wingko punya peranan penting bagi pertumbuhan ekonomi daerah ini. Ada banyak perusahaan pengrajin wingko babat yang memperkerjakan banyak orang. Kelapa yang digunakan untuk bahan wingko ini diambil dari daerah sekitar di Babat. Saat ini wingko merupakan makanan yang terkenal di Babat dan menjadi oleh-oleh sebagian besar orang saat berkunjung ke Lamongan.[13]

Wingko babat Loe Lan Ing merupakan wingko tertua di Babat. Ibu Kristina, generasi keempat penerus wingko babat Loe Lan Ing tidak tahu pasti kapan pertama kali wingko babat dibuat oleh buyutnya (Loe Lan Ing). Tapi Ia menjelaskan kalau wingko babat sudah ada sejak zaman Belanda. Dimulai sejak permulaan abad ke-20, ketika warga keturunan Tionghoa memulainya lewat industri rumahan. Kini, generasi keempat masih meneruskan tradisi itu. Toko wingko Loe Lan Ing ini terletak di Jalan Raya Babat No. 189. Memang pada bungkus wingko ini tertulis bahwa izin perusahaan diberikan pada 19 Mei 1951, namun hal itu hanya merupakan izin formal saja sebagai pemilik usaha dan pada faktanya pembuatan wingko dan keberadaan toko ini sejak masa kolonial yang usianya lebih dari 100 tahun.[14]

Gambar 5:                                                                 Gambar 6:

 











 

 

 

Keterangan: Bentuk tekstur dari Wingko Babat Loe Lang Ing yang merupakan Wingko tertua di Lamongan.

Sumber: Koleksi Foto Pribadi.

 

                                    Gambar 7:

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Keterangan: Puisi Wingko Babat Loe Lang Ing di Lamongan.

Sumber: Koleksi Foto Pribadi.

Kabupaten Lamongan mengalami banyak perubahan ketika di bawah kepemimpinan Bupati Masfuk. Lamongan telah berkembang menjadi salah satu kabupaten yang terkemuka dalam hal pembangunan sarana dan prasarana fisik di Indonesia. Sejak pertama kali dilanti menjadi Bupati Lamongan pada tahun 2000, Masfuk tidak pernah berhenti menciptakan terobosan yang pada intinya untuk menciptakan kesejahteraan rakyat. Sektor ekonomi pada masa Bupati Masfuk mengalami kemajuan yang sebelumnya mengalami krisis.[15] Pada tahun 2008, terobosan kembali diciptakan yaitu pengajaran Bahasa Mandarin. Mulai tahun 2008 ini wajib ada ekstrakurikuler Bahasa Mandarin di setiap kecamatan. Upaya itu bukannya tanpa alasan namun didorong upaya dalam rangka memberikan nilai tambah masyarakat Lamongan. Hal itu juga untuk menangkap peluang bisnis dan investasi ke depan agar Lamongan lebih punya keunggulan kompetitif khususnya di bidang sumber daya manusia di samping sumber daya alam. Terobosan ini dapat respon positif bagi masyarakat Lamongan.[16]

Tidak hanya bahasa saja, masyarakat Lamongan juga mengadopsi makanan dari orang-orang Tionghoa seperti Soto Lamongan, Wingko Babat, dan Tahu Campur. Bahwa makanan diatas merupakan masakan Jawa yang mengadopsi dari negeri Tiongkok. Soto sendiri ini aslinya berasal dari negeri Tiongkok. Nama Soto diambil dari kata Caudo yang pertama kali diperkenalkan oleh para penjaja dengan pikulan dan juga peran dari kedelai dalam memproduksi tempe, tahu dan oncom sebagai makanan pokok dan bergizi tinggi.[17] Dan yang terakhir adalah Tahu Campur, yang membuat Lamongan dijuluki sebagai Kota Tahu Campur walaupun makanan ini lebih populer di luar Lamongan. Hal yang membuat Tahu Campur ini unik adalah adanya penambahan perkedel singkong yang terbuat dari parutan singkong dan rempah-rempah. Tahu Campur menjadi menu makanan pokok pada saat acara pesta pernikahan. Berdasarkan cerita yang berkembang di masyarakat Lamongan, resep pembuatan Tahu Campur tidak sengaja. Pada awalnya seorang pedagang soto pulang ke rumah mendapati beberapa bahan sisa berjualan soto seperti tauge, tahu, kubis, kuah soto, dan masih memiliki sisa petis. Lalu pedagang tersebut mencampur bahan-bahan yang ada tadi dengan petis dan ternyata rasanaya enak. Salah seorang temannya menyarankan untuk menjual makanan tersebut. Lambat laun makanan Tahu Campur ini laris dan banyak digemari.[18]

Dari pembahasan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa masyarakat Tionghoa dengan masyarakat lokal di Lamongan memiliki keterkaitan dan bergantungan sama lain dalam percampuran budaya. Imbasnya dari percampuran budaya tidak hanya didapatkan oleh orang Tionghoa saja melainkan masyarakat lokal di Lamongan terkena juga. Bagi masyarakat Tionghoa dengan adanya akulturasi ini mempengaruhi adat dari tradisinya seperti redupnya tradisi Tionghoa, penamaan cina, bentuk arsitektur rumah, dan agama yang dijalaninya. Dampak dari kebijakan pemerintahan pada tahu 1965 sangat berasa sampai sekarang. Banyaknya Tionghoa yang peranakan ingin dianggap sebagai orang Jawa sedangkan untuk yang Totok sudah mulai nyaman berbaur dengan masyarakat lokal Lamongan. Bagi masyarakat lokal Lamongan mereka mendapatkan unsur-unsur kebudayaan bagi dari bidang kuliner seperti Soto, Wingko Babat dan Tahu Campur, seni pertunjukan Barongsai, bentuk arsitektur pecinan, dan juga pembelajaraan bahasa Mandarin yang merupakan bahasa negeri Tiongkok. Jadi pada intinya kedua perbedaan etnis ini saling menguntungkan satu sama lain dan adanya persilangan akulturasi yang terjadi antara orang-orang Tionghoa dengan masyarakat lokal di Lamongan.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Buku dan Internet

Anonim. Lamongan Gencarkan Pengajaran Bahasa Mandarin, http://internasional.kompas.com, diakses pada tanggal 07 Desember 2017, Pukul 22.58 WIB.

Husain, Sarkawi B., Purnawan Basundro, Dkk. 2017. Sejarah Lamongan Dari Masa ke Masa. (Surabaya: Airlangga University Press).

Lombard, Dennys. 1996. Nusa Jawa: Silang Budaya Bagian II Jaringan Asia, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama).

Nimah, Nur Lailatun. Etnis Cina Babat: Perkembangan Kota dan Potensi Kuliner Khas Lamongan Tahun 1943-1998, http://lailahistoria-fib11.web.unair.ac.id, Diakses pada tanggal 07 Desember 2017, Pukul 22.17 WIB.

Rohman, Auliyau. Istana Asal-Asalan Gunung Mas Mantup, www.lamonganoke.wordpress.com, diakses pada tanggal 07 Desember 2017, Pukul 22.02 WIB.

Winarni, Retno, Sri Ana Handayani, Dkk. 2015. Cina Republik Menjadi Indonesia. (Yogyakarta: Kurnia Kalam Alam Semesta).

Data Informan

  1. Nama          : Rizky Putra Prawira Subandi

Alamat        : Jl. Sunan Drajad 157, Kec. Lamongan, Kab. Lamongan.

Usia            : 21 tahun.

Status         : Pemerhati Tionghoa di Lamongan.

  1. Nama          : Dony Djhung.

Alamat        : Jl. Kapasan Dalam II no. 12, Kec. Simokerto, Surabaya.

Usia            : 65 tahun.

Status         : Keturunan Tionghoa Peranakan Lamongan.

  1. Nama          : Ambe Wiyono.

Alamat        : Jl. Sunan Drajad 169, Kec. Lamongan, Kab. Lamongan.

Usia            : 65 tahun.

Status         : Tionghoa Islam di Lamongan.

  1. Nama          : Krisyanto Chandra (Iay Iyen).

Alamat        : Jl. Basuki Rahmat 17, Kec. Lamongan, Kab. Lamongan.

Usia            : 18 Tahun.

Status         : Tionghoa Totok di Lamongan.

  1. Nama          : Juliana.

Alamat        : Jl. Sunan Drajad 178, Kec. Lamongan, Kab. Lamongan.

Usia            : 63 Tahun.

Status         : Tionghoa Peranakan di Lamongan.


[1] Wawancara dengan Bapak Dony Djhung (Selaku Keturunan Tionghoa Peranakan Lamongan),Pada Tanggal 20 November 2017,  di Jalan Kapasan Dalam II no. 12, Surabaya.

 

[2] Ibid.

 

[3] Retno Winarni, Sri Ana Handayani, Dkk., Cina Republik Menjadi Indonesia, (Yogyakarta: Kurnia Kalam Alam Semesta, 2015), Hlm. 212.

[4] Simbiosis Mutualisme disini dimaksudkan adalah ide-ide akan terjadinya hubungan timbal balik dari perbedaan peradaban yang terjadi.

[5] Wawancara Dengan Bapak Ambe Wiyono (Selaku Tionghoa Islam di Lamongan), Pada Tanggal 28 November 2017, Di Jalan Sunan Drajad 168, Lamongan.

 

[6] Sinoman menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah Sekelompok pemuda yang membantu orang yang sedang mempunyai hajat sebagai pelayan tamu (terutama di pedesaan).

 

[7] Wawancara Dengan Rizky Putra Prawira Subandi (Selaku Pemerhati Tionghoa di Lamongan), Pada Tanggal 28 November 2017, Di Jalan Sunan Drajad no. 157 Lamongan.

 

[8] Wawancara Dengan Ibu Juliana (Selaku Tionghoa Peranakan di Lamongan), Pada Tanggal 28 November 2017, Di Jalan Sunan Drajad no. 178 Lamongan.

 

[9] Ibid.

[10] Wawancara dengan Rizky Putra Prawira Subandi, Op.cit.

 

[11] Wawancara dengan Krisyanto Chandra (Selaku Tionghoa Totok di Lamongan), Pada Tanggal 28 November 2017, Di Jalan Basuki Rahmat no. 17 Lamongan.

[12] Auliyau Rohman, Istana Asal-Asalan Gunung Mas Mantup, www.lamonganoke.wordpress.com, diakses pada tanggal 07 Desember 2017, Pukul 22.02 WIB.

[13] Nur Lailatun Nimah, Etnis Cina Babat: Perkembangan Kota dan Potensi Kuliner Khas Lamongan Tahun 1943-1998, http://lailahistoria-fib11.web.unair.ac.id, Diakses pada tanggal 07 Desember 2017, Pukul 22.17 WIB.

[14] Myrna Ratna, “Warisan dari Tanah Babat”, dikutip oleh Nur Lailatun Nimah, Ibid.

[15] Sarkawi B. Husain, Purnawan Basundro, Dkk., Sejarah Lamongan Dari Masa ke Masa, (Surabaya: Airlangga University Press, 2017), Hlm. 72.

 

[16] Lamongan Gencarkan Pengajaran Bahasa Mandarin, http://internasional.kompas.com, diakses pada tanggal 07 Desember 2017, Pukul 22.58 WIB.

 

[17] Dennys Lombard, Nusa Jawa: Silang Budaya Bagian II Jaringan Asia, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1996), Hlm. 320-321.

[18] Sarkawi B. Husain, Purnawan Basundoro, Dkk., Op.cit., Hlm. 100.


Komentar (1)

M Rifki Cahyoadi S14 November 2018

Secara tidak langsung dispora masyarakat keturunan tiongkok terjadi diseluruh wilayah Indonesia. Hampir semua kabupaten dan kota di indonesia memiliki masyarakat keturunan tiongkok atau cini hal tersebut cukup terlihat dimana masyarakat keturunan cina tersebut hampir menguasai sektor perdagangan yang ada di kabupaten kota tersebut menjadikan pengaru besar perekonomian indonesia. Hal-hal lainnya yang meryertai seperti budaya serta pandangan politik sangatlah menarik untuk dikaji kemudian.


Kirim Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :