24 February 2018

Transportasi Becak di Surabaya Tahun 1985-1990an Sebagai Pemenuh Kebutuhan Ekonomi

Transportasi Becak di Surabaya Tahun 1985-1990an Sebagai Pemenuh Kebutuhan Ekonomi

“saya mau tamasya berkeliling keliling kota

hendak melihat lihat keramaian yang ada

saya panggilkan becak, kereta tak berkuda

becak, becak, tolong bawa saya.”[1]

Penggalan lirik lagu diatas merupakan sebuah deskripsi tentang transportasi becak yang dikarang oleh Ibu Sud.Beliau mendeskripsikan lirik tersebut dengan merasakan suasana menaikki becak. Becak merupakan sebuah transportasi tradisional beroda tiga seperti sepeda yang dikemudikan dengan cara mengayuh pedal yang berada di belakang, di samping di depan tempat penumpangnya, yang hanya cukup untuk dua orang atau lebih penumpang. Eksistensi becak di kota-kota besar cukup diperhatikan oleh masyarakat. Becak bisa bertahan di kota-kota besar karena transportasi tersebut memiliki harga yang cukup terjangkau dan dianggap transportasi yang aman pada tahun 1985-1990an sebelum datangnya transportasi bermesin seperti angkutan umum, bis, taksi ataupun lainnya. Di Surabaya sendiri becak dibutuhkan oleh sebagaian pemilik usaha dagang sebagai alat transportasi pengiriman. Terbukti tahun 1985 sampai 1990an di daerah Dupak, Surabaya yang merupakan pusat industri banyak becak-becak berkeliaran. Jika dibandingkan penghasilannya becak lebih banyak dapat keuntungan ketika berposisi di kota daripada desa. Di kota bisa bertahan karena becak bisa memasuki ke jalan-jalan yang sempit biasanya jalan tersebut terletak di anatara gang-gang. Di Surabaya becak biasanya mencari penumpang dengan menunggu tempat yang sekiranya ramai seperti Pasar Turi, Sekolah, dan lainnya.

Jika ditinjau dari sisi historisnya becak pertama kali muncul pada tahun 1865. saat berjalan-jalan menikmati pemandangan kota Yokohama, Jepang, Jonathan Goble, seorang misionaris Amerika, berpikir membuat kendaraan untuk istrinya yang lumpuh, Eliza Weeks. Dia pun mulai menggambar kereta kecil tanpa atap di atas secarik kertas. Rancangan tersebut ia kirimkan kepada sahabatnya, Frank Pollay. Pollay membuatnya sesuai rancangan Goble lalu membawanya ke seorang pandai besi bernama Obadiah Wheeler. Kemudian rancangan tersebut diberi nama becak.Dibalik penemuan kendaraan sederhana ini menurut pengertian namanya, becak adalah bentuk kesetiaan seorang suami pada istrinya.[2] Dari peristiwa tersebut becak mulai berkembang ke berbagai tempat. Bahkan di China becak dijadikan transportasi bagi para bangsawan.

Di Indonesia sendiri, banyak berbagai versi mengatakan asal mula becak ada di Indonesia. Menurut Yoshifumi Azuma dalam mengutip beberapa sumber, angkongatau becak dikenalkan ke Jawa melalui Singapura dalam 1914 menurut Warren. Tetapi Jellinek, menyatakan bahwa becak dikenalkan dari Hong Kong atau Singapura ke Batavia dalam 1930-an. Tetapi Jawa Shinbun mencatat bahwa becak dikenalkan dari Makassar (Ujung Pandang) ke Jakarta dalam akhir 1930s. Gatra melaporkan bahwa becak dikenalkan dari Hong Kong atau China ke Surabaya dalam 1941, dan menyebar seluruh Jawa. Abyeyasekere dan Kompas mendukung pendapat bahwa sekitar 1936, becak pertama kali tampak di Batavia. Tsai berpendapat bahwa menjelang 1941, becak semakin menjadi kendaraan umum dan jumlahnya meningkat cepat.[3] Banyaknya berbagai pendapat membuat kedatangan becak pertama kali di Indonesia pertama kali masih simpang siur dalam sisi sejarahnya.

Kota Surabaya yang merupakan ibukota Jawa Timur, menjadi pusat bagi para imigran-imigran yang berpindah. Mereka berpindah untuk tujuan memperbaiki kehidupan ekonominya. Kebanyakan yang bermigrasi ini rela bekerja apapun di Kota Surabaya seperti menjadi penarik becak, kuli, karyawan-karyawan ataupun lainnya. Kota Surabaya dijadikan tempat berlabuh oleh para imigran karena merupakan kota industri yang dianggapnya memiliki nilai penghasilan ekonomi tertinggi di Jawa Timur. Pesatnya proses modernisasi, industrialisasi, komersalisasi dan edukasi yang terpusat di kota-kota besar telah menjadi faktor penggerak perubahan dan penarik arus urbanisasi dan migrasi penduduk di daerah Indonesia. Kota menjanjikan bagi penduduk yang tinggal di daerah pedesaan atau di daerah lain di Indonesia. Selain itu, kemajemukan penduduk yang telah menjadi ciri-ciri kota-kota kolonial, pada masa sesudah perang dunia II menjadi semakin berkembang dan lebih-lebih pada masa orde baru.[4] Kota Surabaya memiliki kriteria sama dengan kota lainnya seperti Yogyakarta, Bandung, Semarang dan Jakarta yang menjadikan minat para imigrasi. Menurut Sirjamaki yang disebut kota merupakan pusat-pusat komersil dan industri, kota-kota juga merupakan sekumpulan penduduk dengan tingkat pemerintahan sendiri yang diatur oleh pemerintah-pemerintah kota. Kota juga merupakan pusat-pusat untuk belajar serta tempat kemajuan peradaban. Dilihat dari segi sejarah, kota-kota merupakan tempat kelahiran peradaban dunia dan di kotalah menjadi tempat bagi pembentukan peradaban yang lebih tinggi.[5]

Di Surabaya sendiri penarik becak rata-rata adalah para imigran yang berasal dari beberapa daerah. Mereka tergiur oleh ciri-ciri kota yang menjanjikan terpenuhnya kebutuhan ekonomi. Mereka rela meninggalkan keluarganya yang berada di daerah asalnya. Walaupun tidak memiliki pengalaman dalam berkelana, mereka hanya memiliki modal nekat saja.

Para imigran yang berlari ke Surabaya kebanyakan mengambil pekerjaan dari sektor informal karena sektor informal ini tidak membutuhkan nilai pendidikan yang cukup tinggi dan sangat cocok sekali dengan ciri yang diinginkan oleh para imigran. seperti contohnya tukang becak, becak ini hanya memerlukan modal tenaga dan memiliki transportasi becak. Menurut Sumartini, sektor informal adalah kegiatan ekonomi marginal (kecil-kecilan) yang mempunyai ciri-ciri sebagai berikut: 1) pola kehidupannya tidak teratur, baik dalam arti waktu, permodalan maupun penerimaannya; 2) tidak tersentuh oleh peraturan atau ketentuan yang diterapkan pemerintah; 3) modal, peralatan dan perlengkapan maupun omzetnya biasanya kecil dan diusahakan atas dasar hitungan harian; 4) umumnya tidak mempunyai tempat usaha yang permanen dan terpisah dari tempat tinggalnya; 5) tidak mempunyai keterikatan (linkage) dalam usaha lain yang besar; 6) umumnya dilakukan oleh dan melayani golongan masyarakat yang berpendapatan rendah; 7) tidak membutuhkan keahlihan dan ketrampilan khusus, sehingga secara luwes dapat menyerap bermacam-macam pendidikan tenaga kerja; 8) umumnya tiap-tiap usaha memperkerjakan tenaga yang sedikit dan dari lingkungan hubungan keluarga atau berasal dari daerah yang sama; dan 9) tidak mengenal sistem perbankan, pengkreditan dan lain sebagainya.[6]

Bagi para imigran yang berprofesi menjadi penarik becak yang tinggal di perkotaan biasanya tidak memiliki tempat tinggal yang tetap. Kehidupan sosial para penarik becak di Surabaya sangat memprihatinkan. Beberapa dari mereka menjadikan becak sebagai “rumah” mereka. Di beberapa sudut Kota Surabaya seperti di bawah kolong jembatan, bantaran sungai, dan taman-taman kota mereka singgah untuk kemudian beristirahat di atas becak mereka.[7]

Becak sendiri ada di Surabaya sudah ada sebelum masa kemerdekaan Indonesia. Menurut Ensiklopedia Indonesia, becak mulai ada di Surabaya sekitar tahun 1941.[8] Dalam Belsuit: Afschrift Burgemeester en Wethouders disebutkan pada tahun 1941, di Surabaya sudah terdapat pabrik sepeda yang nantinya dikembangkan menjadi becak.[9] Menurut Eva Maulina, data awal persewaan becak yang ditemukan dalam berangka tahun 1942. Sebuah becak berharga f 50 pada tahun 1942 atau 1943. Kemudian kendaraan tradisional ini dengan cepat tersebar ke berbagai pelosok Indonesia dengan berbagai bentuk.[10]

Walaupun pada tahun tersebut merupakan tahun kejayaan bagi transportasi becak, tetapi perkembangan becak di Surabaya mengalami pasang surut. Dalam sejarahnya, becak juga pernah dilarang keberadaannya. Seperti halnya Jakarta pada tahun 1980-an melarang keberadaan mode transportasi roda tiga ini, di Surabaya juga sempat terjadi pelarangan. Hal ini seperti yang diungkapnkan oleh Subandi bahwa dulu di era pemerintahan Suharto pernah terjadi razia-razia becak di Surabaya. Pelarangan becak untuk beroperasi, terkait didatangkannya kendaraan umum bermesin sebagai penggantinya. Dari sana, jumlah becak lambat laun mulai menurun. Banyak para pengayuh becak beralih profesi.[11]

Menurut Gilbert dan Gugler, di  kota besar yang dikendalikan kekuatan kapitalis, kaum migran dan penduduk miskin sering kali tidak mempunyai tempat dan hanya berfungsi suportif yang bersifat sekunder, yakni sebagai pemasok tenaga kerja berupa rendah—dan dalam banyak hal mismatch dengan industri-industri yang bersifat padat modal. Penggusuran lahan milik orang kecil, operasi pembersihan pedagang kaki lima, penghapusan becak, dan sebagainya merupakan fenomena sehari-hari yang biasa terjadi di Kota Surabaya.[12]

Pelarangan atau penghapusan becak ini terjadi diakibatkan banyaknya opini dari media massa yang mengatakan bahwa becak merupakan dalang dari kemacetan di Kota Surabaya. Tetapi jika dilihat dari segi positifnya becak ini tidak mengandung bahan-bahan yang menyebabkan polusi berbeda dari transportasi mesin yang mengakibatkan pencemaran polusi. Tetapi adanya pelarangan ini tidak membuat sebagaian profesi penarik becak ini diam saja. Mereka tetap bekerja sebagai penarik becak walaupun sudah ada pelarangan.

Pada tahun 1985, di Daerah Dupak, Surabaya mulai banyaknya becak yang menetap mencari pelanggan di sekitarnya. Dari perempatan antara Dupak-Demak sudah ada berbagai becak yang menetap. Menurut wawancara dengan Pak Satra, pada tahun 1985 kurang lebih 15 becak berada di daerah perempatan antara Dupak-Demak. mereka mulai beroperasi dari jam 8 sampai malam. Diambil tersebut karena memiliki nilai yang cukup strategis seperti daerah tersebut tempat pemberhentian bis kota, banyaknya pedagang kayu, dan dekat dengan pasar turi yang lagi ramainya pasca renovasi ulang akibat kebakaran.[13]Menurut penuturan Ibu Aisah awal mula merintis usaha pedagang kayu pada 1986 di Dupak, Surabaya jasa pengiriman yang dimiliki adalah pertama kali becak. Memakai becak disebabkan karena fasilitas dalam merawat becak tidak terlalu mengeluarkan biaya banyak. Becak juga bisa disewakan untuk membuka lowongan pekerjaan dan juga becak ini banyak dicari orang sebagai jasa pengiriman karena harga yang ditawarkan terjangkau.[14]

Walaupun ketersediaan transportasi becak di daerah cukup banyak, tetapi mereka tidak saling berebut pelanggan. Bisa dikategorikan dalam dua macam becak tersebut yaitu; 1) Becak sebagai sarana transportasi pengiriman toko; 2) Becak sebagai penarik penumpang. Untuk becak sebagai sarana transportasi pengiriman toko ini adalah becak tersebut sudah mengikuti toko tersebut dan harus mau menerima tawaran pembeli tersebut. Menurut wawancara dengan Pak Satra, dengan mengikuti kerja sama dengan toko dagang tidak perlu mencari penumpang lagi dari luar toko karena usaha yang didapatnya cukup atau berlebih untuk pemenuhan ekonomi keluarganya. Per hari bisa mengirim barang kurang lebih empat kali. Bahkan pernah mengirim sampai ke Waru, Rungkut dan yang paling jauh adalah ke Gresik.[15] Dibandingkan menjadi becak sebagai penarik penumpang saja, hasil yang didapatkan lebih banyak didapat dari becak yang bekerja sama dengan toko. Padahal jam kerja antara becak untuk penumpang dengan yang becak kerja sama dengan toko lebih banyak jamnya becak untuk penumpang. Mereka rela menunggu sampai malam dan juga mungkin hanya mengantarkan ke berbagai tempat yang dekat sedangkan untuk yang bekerja sama dengan toko hanya menunggu pembeli dari toko dan hasil yang didapatkan pun cukup memuaskan walaupun ekstra kerja keras dalam mengayuh becaknya.

Pernah ada yang mengatakan bahwa investasi becak banyak menguntungkan pada 1986. menurut wawancara dengan Ibu Maisaroh, bahwa dulunya ia diberikan warisan becak banyak oleh orang tua dan saudara-saudaranya juga diberikan warisan sama dengannya. Becak dijadikan investasi karena pada saat itu becak lagi banyak dicari orang-orang dan memiliki keuntungan yang cukup banyak. Modal awal becak pun tidak cukup banyak hasil yang didapatkan bisa menutupi lebih dari modal awal tersebut. Seperti halnya di Jalan Dupak becak berkeliaran banyak disana. Menurut penuturannya, orang tuanya memiliki 30 lebih becak yang kemudian becak itu disewakan kepada orang yang tidak memiliki pekerjaan. Kebanyakan becak yang disewakan adalah orang-orang yang berusia 30-60an tahun dan mereka kebanyakan berasal dari para imigran Madura, Gresik, Mojokerto, Bojonegoro, Kediri dan Sekitaran Jawa Timur.[16]

Daerah Dupak merupakan kawasan industri yang akhirnya menarik minat para penarik becak. Jika dibandingkan antara 1985 sampai masa reformasi becak lebih banyak dijumpai. Menurut Bapak Satra, dulu becak banyak dicari orang bahkan jika ada orang yang merasa puas dengan harga yang ditawarkan dibiarkan saja berbeda dengan semenjak masa reformasi yang susah cari pelanggan.[17] Penarik becak juga biasanya menunggu penumpang di sekolah. Sasaran tempat sekolah yang banyak ditunggu contohnya seperti sekolahan Ta’miriyah karena sekolahan tersebut pada tahun sekitaran tahun 1988 mulai berkembang pesatnya. Yang dicari oleh penarik becak adalah anak-anak SD dan TK. Biasanya penarik becak oleh orang tua tersebut sudah dijadikan langganan untuk antar jemput anaknya karena becak merupakan transportasi yang cukup aman. Seperti kutipan Jellenik, menggunakan tukang-tukang becak mengantar anak-anak mereka ke dan dari sekolah. Pedagang-pedagang menggunakan becak mengangkut bahan-bahan mentah mereka ke dan dari pasar. Ibu-ibu rumah tangga menggunakan becak dengan mempertambangkan mereka ke dan dari pasar setiap hari. Karyawan-karyawan kantor menggunakan becak-becak membawa mereka kerja.[18]

Eksistensi becak mulai meredup pada tahun 1990an karena becak mulai tidak banyak peminatnya. Bahkan pedagang-pedagang pun mulai mengandalkan jasa dari transportasi mesin. Dan juga pengetatan aturan tentang penghapusan becak. Becak mulai kalah bersaing dengan transportasi mesin seperti angkutan umum, bis, taksi ataupun lainnya. Becak hanya dibutuhkan untuk mengantar ke gang-gang yang sekiranya sepi. Menurut Bapak Satra, pada 1990 ketika ditarik oleh pemilik toko menjadi karyawannya, penghasilan yang didapatnya lebih rendah dari menjadi penarik becak.[19] Beralihnya ke transportasi mesin ini banyak membuat orang berpindah haluan profesi. Di daerah Dupak sedikit demi sedikit becak sudah mulai tidak ada. Mungkin tidak adanya ini disebabkan adanya transportasi mesin yang mulai menguasai sarana transportasi. Bahkan pedagang-pedagang pun mulai banyak membeli transportasi bermesin dan mengalih pandangan dari transportasi becak.

Kesimpulan dari penulisan diatasa adalah eksistensi becak sangatlah pasang surut. Walaupun begitu becak merupakan sebagai alat pemenuh kebutuhan ekonomi para masyarakat tidak hanya kalangan dari penariknya dari pemilik usaha dagang pun merasa teruntungkan dengan adanya becak. Bahkan becak fasilitas perawatannya tidak mengeluarkan biaya yang cukup mahal berbeda dengan transportasi bermesin. Becak dijadikan profesi oleh para imigran karena tidak memerlukan modal banyak dan tidak memerlukan tingkat pendidikan yang tinggi hanya dengan memiliki tenaga yang cukup kuat. Seperti pepatah orang-orang bensin becak itu tidak untuk becaknya tetapi ada pada penarik. walaupun pada masa reformasi eksistensi becak mulai redup tetapi becak bisa dikategorikan becak tradisional yang ramah lingkungan tidak membuat polusi. Hanya saja becak sering membuat kemacetan di jalan raya apalagi jalan raya tersebut merupakan jalan utama industri di Surabaya.

Becak ini banyak diminati oleh kaum perempuan apalagi oleh para ibu-ibu. Karena kebanyakan transportasi bermesin banyak para kaum perempuan tidak bisa mengendarai dan becak merupakan solusi transportasi yang sekiranya aman dan dianggap tidak memiliki tingkat kecelakaan yang tinggi. Bagi para imigran-imigran yang ke Surabaya, becak merupakan transportasi sektor informal yang bisa dijadikan profesinya. Dengan awal modalnya menyewa becak dengan pemiliki becak kemudian jika modal tersebut menghasilkan lebih bisa dibuat untuk membeli becak biar tidak menyewa becak lagi. Dan transportasi becak harga cukup terjangkau baik itu pengirimannya ataupun harga penjualan becak.

Daftar Pustaka

Akbar, Jay. Mengayuh Sejarah Becak. www.historia.id/kota. diakses 7 Juli 2017. pukul 18.52 WIB.

Azuma, Yoshifumi. Abang Beca, Sekejam-kejamnya Ibu Tiri, Masih Lebih Kejam Ibu Kota. (Pustaka Sinar Harapan: Jakarta, 2001).

Basundoro, Purnawan. Pengantar Sejarah Kota. (Yogyakarta: Ombak, 2012).

Basundoro, Purnawan. Dua Kota Tiga Zaman Surabaya dan Malang. (Yogyakarta: Ombak, 2009).

Colombijn, Freek (et.al.). Kota Lama, Kota Baru: Sejarah Kota-kota di Indonesia Sebelum dan Setelah Kemerdekaan. (Yogyakarta: Ombak, 2015).

Maulina, Eva. Becak Di Surabaya 1945-1975: Suatu Kajian Historis Tentang Perkembangan Transportasi Informal Kota, (Surabaya: Skripsi pada Jurusan Ilmu Sejarah. FIB, UNAIR, 2006).

Wirayuda, Arya W. dan Bachtiar Ridho E. (et.al.). Mengeja Keseharian: Sejarah Kehidupan Masyarakat Kota Surabaya. (Surabaya: Departemen Ilmu Sejarah Unair, 2013).

Data Informan

Nama   : Bapak Satra

Alamat            : Jl. Dupak Bandarejo Surabaya

Umur   : 64 Tahun

Status  : Mantan Penarik Becak Pada Tahun 1985-1992.

 

Nama   : Ibu Aisah

Alamat            : Jl. Demak 233 Surabaya

Umur   : 52 Tahun

Status  : Selaku Pedagang dan Pemilik Becak Tahu 1986-sekarang.

 

Nama   :Ibu Maisaroh

Alamat            : Jl. Dupak Surabaya

Umur   : 54 Tahun

Status  : Juragan Becak pada tahun 1986-2002.   

 



[1] Lagu ini berjudul “Hai Becak”, hasil karya Ibu Sud pada tahun 1942, dikutip dari Eva Maulina,Becak Di Surabaya 1945-1975: Suatu Kajian Historis Tentang Perkembangan Transportasi Informal Kota, (Surabaya: Skripsi pada Jurusan Ilmu Sejarah. FIB, UNAIR, 2006), Hlm. 1.

[2]Jay Akbar, Mengayuh Sejarah Becak, www.historia.id/kota, diakses 7 Juli 2017, pukul 18.52 WIB.

                                              

[3]Yoshifumi Azuma, Abang Beca, Sekejam-kejamnya Ibu Tiri, Masih Lebih Kejam Ibu Kota, (Pustaka Sinar Harapan: Jakarta, 2001), Hlm. 13.

[4]Djoko Suryo, “Penduduk dan Perkembangan Kota Yogyakarta 1900-1990”, dalam Freek Colombijn (editor), Kota Lama, Kota Baru: Sejarah Kota-kota di Indonesia Sebelum dan Setelah Kemerdekaan, (Yogyakarta: Ombak, 2015), Hlm. 28.

 

[5]John Sirjamaki, “The Sociology of Cities”, dikutip dari Purnawan Basundoro, Pengantar Sejarah Kota, (Yogyakarta: Ombak, 2012), Hlm. 16.

[6]Sumartini, “Strategi Adaptasi Tukang Becak”, dikutip dari Eva Maulina, Op.cit., Hlm. 18.

 

[7]Moch. Risallah Qottada, “Becak Penarik dan Perkembangannya di Surabaya”, dalam Arya W. Wirayuda dan Bachtiar Ridho E. (editor), Mengeja Keseharian: Sejarah Kehidupan Masyarakat Kota Surabaya, (Surabaya: Departemen Ilmu Sejarah Unair, 2013), Hlm. 232.

[8]B. Setiawan (red), “Ensiklopedia Nasional Indonesia, Jilid 3”, dikutip oleh Eva Maulina, Loc.cit., Hlm. 56.

 

[9]Belsuit: Afschrift Burgemeester en Wethouders Soerabaja ( Soerabaja, 17 Mei 1941): AKS, box 1727, no41517, dikutip oleh Eva Maulina, Ibid, Hlm. 56.

 

[10]Eva Maulina, Ibid, Hlm. 56-57.

 

[11]M. Saichurrohman, “Potret Becak dan Pengayuhnya di Surabaya”, dalam Arya W. Wirayuda dan Bachtiar Ridho E. (editor), Op.cit., Hlm. 229.

[12]Alan Gilbert dan Jose Gaugler, “Urbanisasi dan Kemiskinan di Dunia Ketiga”, dikutip oleh Purnawan Basundoro, Dua Kota Tiga Zaman Surabaya dan Malang, (Yogyakarta: Ombak, 2009), Hlm. 113-114.

 

[13]Wawancara dengan Bapak Satra (Mantan Penarik Becak Pada Tahun 1985-1992), 22 Juni 2017, di Jl. Dupak Surabaya.

 

[14]Wawancara dengan Ibu Aisah (Selaku Pedagang dan Pemilik Becak Tahu 1986-sekarang), 21 Juni 2017, di Jl. Dupak Surabaya.

[15]Wawancara dengan Bapak Satra, Op.cit.

[16]Wawancara dengan Ibu Maisaroh (Selaku Juragan Becak pada tahun 1986-2002),  16 Juni 2017, di Jl. Dupak Surabaya.

 

[17]Wawancara dengan Bapak Satra, Loc.cit.

 

[18]Jellinek L., “The Wheel of Fortune the History of A Poor Inner-City Community in Jakarta”, dikutip oleh Yoshifumi Azuma, Op.cit., Hlm. 39.

[19]Wawancara dengan Bapak Satra, Op.cit.


Kirim Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :