16 September 2018

Tinjauan Historis Kondisi Masyarakat Selayar

Selayang pandang Kepulauan Selayar sudah disebutkan dalam kitab Negarakertagama yang ditulis oleh Prapanca pada zaman Gajah Mada, seperti dalam sarga XIII dan XIV. Di dalam kitab tersebut disebutkan beberapa wilayah Majapahit: “muwah tanah; Bantayan pramuka Bantayan len Luwuk tentang Udamakartayadhi nikanang sanusaspupul Ikangsakasanusanusa Makasar Butun Banggawi Kuwi Craliyo muwangi (ng) Selaya Sumba Soto Muar”. Menurut Prapanca yang dianggap sebuah negeri, yakni negeri Makassar, sama dengan yang disebut Bantayan (Bantaeng), Selaya (Selayar), dan lainnya. Menurut warga setempat Selayar berarti salah layar atau satu layar.[1]

1. Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat Selayar

Jika mengacu pada sisi historisnya, Kepuluan Selayar dulu menurut Christian Heersink pernah dijadikan sebagai pusat penghasilan kelapa terbesar yang ada di Sulawesi Selatan dan disebut sebagai era “Green Gold” pada tahun 1900-1922.[2] Secara dalam letak geografisnya Selayar  memiliki jalur yang sangat strategis untuk dilewati. Bahkan dalam naskah hukum perdagangan dan pelayaran “Amamana Gappa” yang berbahasa Bugis, Selaya disebutkan sebagai salah satu tujuan niaga. Kemudian daerah ini dijadikan juga sebagai satu bandar transit untuk menunggu musim belayar yang baik.[3] Kepuluan Selyar bisa dikatakan memiliki aspek-aspek penting dalam perkembangan sosial ekonomi di Sulawesi Selatan.

Kabupaten Selayar merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Sulawesi Selatan yang terleta antara 5°42' - 7°35' Lintang Selatan dan 120°15' - 122°30' Bujur Timur yang berbatasan dengan Kabupaten Bulukumbang di Sebelah Utara, Laut Flores sebelah Timur, Laut Flores dan Selat Makassar sebelah Barat dan Provinsi Nusa Tenggara Timur di Sebelah Selatan. Luas wilayah Kabupaten Selayar tercatat 1.357,03 km² yang meliputi 11 kecamatan, sedangkan jumlah desa kelurahan sebesar 75 desa/kelurahan dengan rincian 68 desa dan 7 kelurahan.

Kabupaten Kepulauan Selayar mempunyai potensi sumber daya laut yang sangat besar dan dapat dijadikan modal dasar untuk peningkatan kesejahteraan masyarakatnya. Meskipun demikian potensi tersebut sejauh ini belum dikelola dengan baik sehingga masih banyak penduduk di Selayar yang hidup di bawah garis kemiskinan. Peran penting sumber daya laut terhadap perekonomian penduduk dapat dilihat dari mata pencaharian penduduk yang sebagaian besar tergantung pada laut. Kebanyakan masyarakat Selayar bergantung pada pertumbuhan tambak dan rumput laut.[4]

 Potensi dari wilayah agraris pun tidak dikesampingkan bagi masyarakat Selayar. Mereka pun bergantung adanya penghasilan dari agraris. Dari sejumlah hasil hutan produksi tersebut hanya rotan yang telah memberikan kontribusi pada kesejahteraan masyarakat Selayar. Produk perkebunan yang memberiksn kontribusi pada pendapatan daerah ada 15 jenis tanaman terutama kelapa, kemiri, cengkeh, jambu mete, pala, panili, dan kenari. Penduduk di Kabupaten Selayar rata-rata mempunyai tanah yang tergolong sempit, sehingga tidak ada areal lahan yang khusus digunakan untuk tanaman perkebunan. Jenis tanaman tersebut umumnya di pekarangan perkebunan. Tanaman kelapa merupakan tanaman perkebunan rakyat yang paling dominan di Kabupaten Selayar, meskipun harga jual kopra kurang menguntungkan. Bahkan ada produksi lainnya seperti Jagung, jeruk perok dan jeruk nipis sebagai penghasilan masyarakat Selayar yang agraris namun tidak menghasilkan keuntungan yang lebih tinggi dari kelapa.[5]

Dari penjelasan diatas bahwa masyarakat Selayar lebih bergantung kepada wilayah agraris padahal jika dilihat dari segi geografisnya wilayah lautnya bisa dieksploitasi lebih dalam tidak hanya bergantung pada penghasilan sumber daya laut. Alam yang bisa dijadikan sebagai objek penarik wisatawan seperti pantai memungkinkan untuk mensejahterakaan masyarakat Selayar namun itu semua tidak dimanfaatkan dengan baik. Adanya masyarakat Selayar yang lebih menonjolkan sisi agrarisnya daripada maritim menimbulkan tradisi nyombala. Apa yang disebut tradisi nyombala yang nantinya akan dijelaskan ke sub bab berikutnya. Adanya kondisi sosial-ekonomi inilah yang nantinya menjadi motif untuk melakukan nyombala. Meskipun demikian, kepulauan Selayar memiliki tingkat kesejahteraan yang tinggi dengan adanya pemanfaatan sumber daya alamnya melalui wilayah agrarisnya. Dan juga letak geografisnya lebih berdekatan dengan pelabuhan Makassar menjadikan kepulauan Selayar tingkat sejahteraannya masih aman.

2. Karakteristik dan Kebudayaan Masyarakat Selayar

Masyarakat Selayar pada umumnya sama dengan masyarakat Bugis-Makassar memiliki bentuk stratifikasi sosial. Sejak zaman dahulu di kalangan masyarakat Selayar sendiri pada umumnya, juga mengenal stratifikasi sosial berdasarkan keturunan seperti Daeng atau Opu (keluarga karaeng), panrita (cerdik pandai/cendikiawan tradisional), ata atau pasompo-sompo poke (keturunan pengawal Opu atau Karaeng yang bersenjatakan poke/tombak). Stratifikasi sosial paling bawah (lower class) dinamakan tau samara (orang kebanyakan) yang hidup di luar struktur pemerintahan dan biasanya sebagian dari mereka menjadi pengabdi pada mereka yang lebih tinggi strata sosialnya. Khusus mereka yang bertugas mengawal penguasa (raja) dikenal dengan istilah pallapi barambang (pelapis dada, makna ettimologi dalam bahasa Indonesia). Selain itu, untuk kategori tau samara, juga dikenal paalle ruku’ (tukang pengumpul rumput untuk makanan kuda milik tuannya).

Kategori strata sosial pertama dalam kehidupan sehari-hari senantiasa dihormati, seperti dalam acara pesta perkawinan ia ditempatkan (duduk) pada posisi sebelah (bagian) barat dari rumah pesta (attolong lau’). Kategori kedua dari stratifikasi sosial ini dalam masyarakat juga diperlakukan istimewa mungkin karena pengetahuan yang dimilikinya tentang berbagai hal baik yang menyangkut norma (ada’), pengetahuan tentang kesaktian (pangissengang), maupun ilmu agama atau tarekat (setelah masuknya ajaran Islam). Meskipun tingkat pengetahuan para panrita itu bervariasi, namun tidak lagi dikenal stratifikasi sebagai pembeda antara satu dengan yang lain.[6]

Sistem kekerabatan di kalangan masyarakat Bugis-Makassar di Sulawesi Selatan, hingga hari ini kelihatannya masih tetap dipertahankan dan dijunjung tinggi. Sistem tersebut dikenal dalam berbagai istilah seperti passibijaeng (Makassar), ada’ assiwijangen (Bugis) dan passibijaan (Selayar). Sistem kekerabatan yang berlaku di Selayar, adalah sistem bilateral (parental). Kerena itu, hubungan kekeluargaan seseorang dapat ditelusuri melalui dua jalur, yakni melalui hubungan kekeluargaan dari garis keturunan ayah maupun dari Ibu.

Kelompok kekerabatan tersebut juga terbentuk melalui dua pola, yakni pola kelahiran dan perkawinan. Terminologi kerabat dalam bahasa Selayar disebut bija, yang dapat digolongkan menjadi dua bagian yakni bija pammanakang dan bija passianakang. Kategori bija pertama adalah kelompok kekerabatan yang terbentuk melalui jalur kelahiran dan kategori bija kedua terbentuk melalui jalur ikatan perkawinan. Sementera itu, kekerabatan dalam unit sosial terkecil dinamakan bija pammanakang sibatu sapo, yakni mencakup keluarga luar (extended family) dan segenap keluarga yang tinggal bersama-sama dalam satu rumah tangga atau nuclear family.[7]

Masyarakat Selayar memiliki sesuatu bentuk kebudayaan yang unik salah satunya adalah pangissengang yang merupakan ilmu kesaktian. Ilmu ini dipercayai ketika mereka pada posisi yang genting/kritis. Terdapat banyak jenis dalam ilmu kesaktian namun yang dibahas yang satu yaitu Kaka’balang yakni ilmu kekebalan (kabura’neang) yang dimiliki oleh seseoran untuk melindungi diri dari bahaya. Kemampuan atau kesaktian seperti ini biasanya dimiliki oleh orang-orang yang gemar menggembara menguji kesaktian dari kampung ke kampung. Dalam bahasa Selayar pengembara ini dikenal dengan istilah pasolle yang pekerjaannya adalah gemar menguji kesaktiannya (keberanian) dengan mengunjungi berbagai kampung.[8] Seperti halnya orang yang melakukan nyombala bisa dianalisa bahwa mereka sebagaian besar memiliki pangissengang yang kategori cirinya antara lain adalah Kaka’balang yang digunakan sebagai melindungi diri ketika menggembara ke tempat lain.

Masyarakat Selayar juga mengenal akan adanya kekuatan nasib (sareg) yang pada umumnya sangat berpengaruh terhadap kehidupan manusia. Demikian korelasinya adanya kepercayaan pada kekuatan nasib ini, sehingga sering dijadikan sebagai tujuan akhir dari sebuah usaha (puncak perjuangan). Jika mereka berhasil maka ucapan yang terlontar dari mulut mereka sekaligus ungkapan rasa syukur adalah sukkurumoki ka lasareki dalle Allah Ta’ala (puji syukur ke khadirat Allah) dan sebaliknya bagi mereka yang gagal mengatakan sarengku tommo lappakonni (sudah suratan takdir yang membuat saya harus begini). Karena itu, mengadu nasib dikaangan orang Selayar dinamakan a’delle-dallekang.[9] Dari sini tradisi nyombala dijadikan sebagai bentuk motif sareg yang nantinya ketika ada usaha walaupun hasilnya diluar dari tujuan awalnya mereka tetap mempercayai adanya kekuatan nasib.

Ada juga bentuk kebudayaan yang disebut kapalli’ (pemali) yang merupakan warisan nilai tradisional masyarakat Selayar sebagai pesan kultural. Pesan kultural ini merupakan salah satu institusi sekaligus sistem sosial yang memiliki nilai penting bagi masyarakat penghuni Tanadoang. Dalam bahasa Indonesia, kapalli’ sepadan dengan istilah pantang atau larangan. Beberapa contoh yang tergolong kapalli’ yakni assala (menghina orang lain), anjai’ bangngi (menjahit pada malam hari), akkelong ari pappalluang (bernyanyi di dapur), attolong di baba’ang (duduk di pintu), appattolongi lungang (menduduki bantal), tinro sa’ra’ allo (tidur menjelang maghrib), bonting sampu’ sikali (kawin dengan sepupu satu kali), dan masih banyak lagi yang lain.[10] Meskipun begitu, adanya kebudayaan kapalli’ selalu dilestarikan oleh masyarakat Selayar baik berada di kepulauan Selayar atau berada diluarnya bagi para orang yang merantau ke wilayag lainnya.

DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, Abu. Semangat Islam Dalam Kebudayaan Orang Bugis-Makassar, (Artikel:publishing).

Ahmadin. 2006. Tana Doang Dalam Catatan Sejarah Maritim: Pelautkah Orang Selayar. (Yogyakarta: Ombak).

Ahmadin. 2016. Nusa Selayar: Sejarah dan Kebudayaan Masyarakat Di Kawasan Timur Nusantara. (Makassar: Rayhan Intermedia).

Heersink, Christian. 1999. Dependenceon Green Gold: A Socio-Economic History of the Indonesia Coconut Island Selayar. (Leiden: KITLV Press).

Ahmadin. Warisan Budaya Orang Selayar (Menggugat Eksistensi Atas Nama Identitas). (Artikel, Makassar: Universtitas Negeri Makassar).

Ngadi, Toni Soetopo, Suko Bandiyono, dan Masyhuri Imron. 2011. Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Kesejahteraan Masyarakat di Kabupaten Kepulauan Selayar. (Jakarta: Leuser Cita Pustaka).

Ngadi, Toni Soetopo, dan Masyhuri Imron. 2011. Dinamika Sosial Ekonomi Masyarakat Pesisir Di Kabupaten Kepulauan Selayar. (Jakarta: Leuser Cita Pustaka).


[1] Abu Ahmadi, Syekh Yusuf Makassar: Seorang Ulama, Sufi dan Pejuang, (Jakarta: Obor, 2005), hlm 3.

[2] Christian Heersink, Dependenceon Green Gold: A Socio-Economic History of the Indonesia Coconut Island Selayar, (Leiden: KITLV Press, 1999), hlm. 255.

[3] Intan S. Fadhlan M., “Industri Tembikar Di Kolo-Kolo, Selayar”, dikutip oleh Ahmadin, Nusa Selayar: Sejarah dan Kebudayaan Masyarakat Di Kawasan Timur Nusantara, (Makassar: Rayhan Intermedia, 2016), hlm. 226.

[4] Ngadi, Toni Soetopo, Suko Bandiyono, dan Masyhuri Imron, Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Kesejahteraan Masyarakat di Kabupaten Kepulauan Selayar, (Jakarta: Leuser Cita Pustaka, 2011) hlm. 2.

[5] Ngadi, Toni Soetopo, dan Masyhuri Imron, Dinamika Sosial Ekonomi Masyarakat Pesisir Di Kabupaten Kepulauan Selayar, (Jakarta: Leuser Cita Pustaka, 2011), hlm. 6-7.

[6] Ahmadin, Warisan Budaya Orang Selayar (Menggugat Eksistensi Atas Nama Identitas), Artikel, (Makassar: Universtitas Negeri Makassar), hlm. 9.

[7] Ibid, hlm. 10.

[8] Ahmadin (2016), Op. cit., hlm. 22-23.

[9] Ibid, hlm. 24

[10] Ibid, hlm. 31-32.


Kirim Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :