04 January 2019

Tinjauan Historis Kampung Kapasan Dalam Membangun Peradaban Masyarakat Tionghoa di Surabaya (1900-1942)

  1. 1.        Pendahuluan

Menelusuri jejak sejarah dari perkembangan pecinan di Surabaya, belum diketahui secara jelas kapan mereka mulai berdatangan. Peristiwa perjalanan dari masa ke masa memiliki sebab akibat yang berbeda. Orang Tionghoa yang merantau ke Indonesia awalnya hanya berkeinginan untuk memperbaiki kebutuhan ekonominya. Surabaya dijadikan sasaran pelancong orang-orang Tionghoa karena secara geologisnya sangat terjangkau untuk disebrangi dan juga perkembangan ekonominya sangat signifikan. Dalam disertasi Sutjipto Tjiptoatmodjo menjelaskan kondisi Kota Surabaya pada pertengahan abad 19 lebih bagus dan lebih hidup daripada Batavia. Di dalam kota terdapat banyak gudang-gudang, kantor dagang dan pasar. Surabaya berkembang tidak hanya sebagai kota dagang, tetapi juga sebagai kota industri kerajinan.[1] Alasan yang paling menonjol adanya persebaran masyarakat Tionghoa di Surabaya adalah faktor ekonomi. Secara garis besar, masyarakat Tionghoa di Indonesia terbagi menjadi beberapa golongan yaitu Tionghoa Totok dan Tionghoa Peranakan. Tionghoa Totok adalah orang Tionghoa yang masih baru menetap di Indonesia selama satu generasi atau dua generasi dan masalah genealogi masih memiliki keinginan untuk menikahi orang Tionghoa. Tionghoa Peranakan adalah orang Tionghoa yang telah lama menetap di Indonesia, selama tiga generasi atau lebih dan telah melalui perkawinan campur yang nantinya generasi selanjutnya sering disebut dengan istilah  Tionghoa Peranakan.[2]

Ada empat Sub-etnis Tionghoa yang datang ke Indonesia yaitu Sub-etnis Hok Kian, Hakka, Kanton dan Teo-Chiu.[3] Mereka datang ke Nusantara disebabkan oleh berbagai latar belakang faktor keadaan ekonomi maupun politik yang berbeda-beda. Kedatangan etnis tionghoa semakin menyebar keseluruh wilayah nusantara dan pulau jawa menduduki peringkat pertama terkait tentang populasi jumlah penduduk etnis tionghoa yang bertempat tinggal dan menetap di Jawa. Kemudian diikuti oleh pulau Sumatera dengan areal pertambangan serta perkebunan yang luas, buruh-buruh didapatkan dari etnis tionghoa berdasarkan peraturan pemerintah kolonial belanda. Dari garis besar etnis tionghoa yang datang ke nusantara, Keturunan orang-orang Hakka dari bangsa suku Han adalah yang terbesar, mereka adalah tergolong dari kelas ekonomi rendah yang berprofesi sebagai pedagang di Nusantara. Di Surabaya sendiri dalam catatan sensus pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1930 sedikitnya  ada empat suku bangsa. Suku Tionghoa tersebut adalah Hok Kian, Hakka, Kanton dan Teo-Chiu. Suku Hok Kian merupakan jumlah terbesar dibanding suku yang lain dan di antara mereka banyak yang menjadi pemimpin orang-orang Tionghoa.[4]

Banyaknya berbagai etnis yang berdatangan di Surabaya membuat sebuah golongan-golongan pemukiman sesuai dengan etnisnya. Biasanya disuatu pemukiman dihuni sesama etnis disebabkan agar dapat beradaptasi dengan etnis yang sama, yang memiliki kriteria yang sama. Tempat-tempat pemukiman di Surabaya dibagi dalam beberapa golongan. Di sebelah Barat Jembatan Merah merupakan kawasan orang Eropa dengan jalan-jalan utamanya seperti Jl. Rajawali, Jl. Jembatan Merah, Jl. Kepanjen, Jl. Branjangan, Jl. Garuda, Jl. Penjara, Jl. Veteran dan sebagainya. Di sebelah Timur dari Jembatan Merah terdapat pemukiman orang Tionghoa yang padat serta pemukiman orang Melayu dan Arab dengan jalan-jalan utamanya seperti Jl. Kembang Jepun, Jl, Karet, Jl. Kopi, Jl. Songojudan, dan Jl. Slompretan. Sedang jalan-jalan untuk daerah pemukiman orang Arab dan Melayu adalah Jl. Kyai Mas Mansyur, Daerah Sasak dan sekitarnya.[5] Memasuki abad ke-19, Surabaya sudah banyak berubah mulai dari Kampung Tionghoa yang sebelumnya hanya di sebagaian saja di Pecinan Kulon, kini menjadi lebih luas. Dari Pecinan Kulon belok ke Jalan Bibis, terus ke Chineesche Breestraat (Jl. Slompretan), ke arah barat sepanjang Tjantian (Cantikan), dan Handelstraat (Jl. Kembang Jepun). Nama cantikan sebelumnya kurang dikenal, tetapi sebelumnya Petjantean. Kawasan antara Cantikan hingga batas Kembang Jepun dinamakan “Kampung Cina Belaka”. Penyebutan itu dimaksudkan untuk membedakan dengan “Kampung Cina muka” (Chinessche Voorstraat) yang dihuni oleh kalangan Tionghoa ternama kala itu, misalnya Tjoa Kwio Soe.[6]

Kawasan Kapasan sendiri memasuki area pemukiman orang-orang Tionghoa di Surabaya karena berdekatan dari Jl. Kembang Jepun, Jl. Karet, dan jalan lainnya yang merupakan pemukiman pecinan. Penghuni daerah Kapasan terdiri atas dua bagian. Mereka yang tinggal di sepanjang jalan raya Kapasan adalah golongan orang-orang kaya, sedangkan yang tinggal di dalam gang-gang di belakang gedung-gedung sepanjang jalan raya adalah golongan kurang mampu. Mereka sebagaian besar adalah pelayan toko atau bekerja sebagai tukang, seperti tukang jam, tukang jahit, tukang pangkas, tukang kayu, dan lain-lain. Selain itu, ada juga yang bekerja sebagai penjaga keamanan perkumpulan-perkumpulan atau rumah-rumah judi. Mereka dikenal sebagai tukang pukul atau pengawal bandar-bandar judi besar atau orang-orang kaya yang merasa perlu mempunyai pengawal pribadi, termasuk menjadi pengawal para opsir Tionghoa.[7] Bukti bahwa kawasan Kapasan sebagai pemukiman pecinan di Surabaya adanya Klenteng Boen Bio yang merupakan satu-satunya Klenteng yang menganut agama Khonghucu. Klenteng tersebut merupakan suatu bukti munculnya suatu dinamika peradaban orang-orang Tionghoa di Surabaya.

Maka dari penjelasan latar belakang diatas penulis merumuskan suatu masalah dalam penulisan ini yaitu: Bagaimana bentuk dinamika dari masyarakat Tionghoa yang berada di Kawasan Surabaya pada masa Pemerintahan Hindia Belanda yang meliputi dari bidang kebudayaan, olahraga, dan juga aktivitas masyarakatnya itu seperti apa. Dalam penulisan ini didukung oleh sumber-sumber baik dalam bentuk literatur maupun dokumenter berupa foto dan juga wawancara dengan masyarakat yang menghuni lama di Kapasan.

  1. 2.      Kampung Kapasan: Eksistensi Aktivitas Masyarakat Tionghoa di Surabaya

Kampung merupakan suatu tempat yang paling vital dengan berdirinya suatu negara. Kawasan kampung tercipta lebih dulu daripada suatu negara, tidak adanya kampung negara tidak akan bisa tercipta.[8] Adanya kampung-kampung di Surabaya tidak terlepas dari bentuk masyarakatnya dalam mengembangkan, menemukan, men-discovered secara mandiri dengan babat alas. Bahkan penamaan-penamaan kampung yang ada di Surabaya tidak terlepas toponomi sejarahnya. Kapasan sendiri toponomi yang diambil berkaitan dengan flora yaitu dari kapas sebutan randu dalam bahasa Melayu-Tionghoa karena sebelum tahun 1900, Kapasan dikenal sebagai kawasan hutan randu.[9]

Penghuni daerah Kapasan terdiri atas dua bagian, yang tinggal di sepanjang Jalan Raya Kapasan adalah golongan “the haves”, sedang yang tinggal di dalam gang-gang di belakang gedung-gedung sepanjang jalan raya adalah golongan kurang mampu. Mereka ini sebagaian terbesar adalah pegawai/pelayan toko-toko atau bekerja sebagai tukang, seperti tukang membetulkan jam, tukang jahit, tukang pangkas, tukang kayu, dan lain-lain. Di samping itu ada juga yang bekerja sebagai penjagan keamanan atau sering disebut seebagai “tukang kepruk” atau “tukang pukul”, terutama bila mereka menjadi semacam penjaga bandar-bandar judi besar atau orang-orang kaya yang merasa perlu mempunyai pengawal pribadi.[10] Pada awal abad 20an bisa dikatakan perjudian yang dilakukan di daerah Kapasan Dalam yang merupakan wilayah golongan Tionghoa kurang mampu memainkan judi dengan alat sederhana bahkan dari permainan ini bisa memperat perkumpulan.[11] Kebanyakan masyarakat Tionghoa di Kapasan adalah peranakan.

Pada 1930 sebagaian pekerjaan orang Tionghoa di Surabaya berada di sektor perdagangan dalam skala menengah maupun kecil. Pedagang Tionghoa dikenal sebagai pedagang perantara yang melayani kedua kelompok masyarakat. Dari pribumi mereka membeli bahan mentah dari produksi pertanian dan produksi lokal untuk dijual pada orang Tionghoa dan Eropa. Di Surabaya tercatat pada 1931 terdapat 22 pasar yang menjalankan aktivitas setiap hari. Di dalam pasar sebagain besar orang Tionghoa menjalankan aktivitas sebagai pedagang, pemberi pinjaman modal, dan pelayanan jasa lainnya seperti halnya di Pasar Kapasan.[12]

Gambar 1:

Pasar Kapasan diambil pada tahun 1910

 

Sumber: https://id.pinterest.com/pin/386394843021809223/?lp=true

Kehidupan Tionghoa di Kapasan tidak hanya berfokus pada bidang perekonomian, namun mereka juga mengutamakan dalam hal olahraga, pendidikan, dan juga agama. Dalam bentuk kebudayaan mereka mulai terkena suatu akulturasi dengan masyarakat pribumi sekitar. Mereka mencampur tradisi asal Tiongkok dengan Jawa sebagai bentuk kearifan lokal masyarakat Tionghoa di Kapasan.

  1. 3.        Memahami Kebudayaan Kampung Kapasan: Persimpangan Antara Budaya Jawa Dengan Tionghoa

Orang-orang Tionghoa di Indonesia dalam kehidupannya telah bergaul dengan masyarakat setempat yang kemudian terjalin suatu akulturasi. Lamanya tinggal di Indonesia tidak mungkin mereka mengisolasi diri tanpa berkomunikasi dengan penduduk setempat maupun beradaptasi dengan penduduk setempat. Elemen pertama yang mereka hadapi di perantauan adalah masalah bahasa dan tradisi setempat. Mereka sebagai migran dituntut beradaptasi dengan lingkungan setempat, baik menyangkut bahasa maupun tradisi, sehingga untuk memudahkan hidup mereka di tempat yang baru, mereka menyesuaikan diri bahkan membaur dengan penduduk setempat.[13]

Kampung Kapasan yang awal abad 20 mulai banyak dihuni oleh Tionghoa Peranakan telah terpangruh dengan kebudayaan Jawa. Tionghoa Peranakan dalam menyesuaikan kebudayaan pada permulaannya tentu lebih terorientasi terhadap kebudayaan Indonesia.[14] Kebudayaan yang diterapkan di Kampung Kapasan ini mengalami pengakulturasian dan kemudian menjadi suatu tradisi yang harus terlaksanakan. Menurut warga setempat, bahwa terdapat tradisi sedekah bumi yang telah terlaksana selama lebih dari 100 tahun bertujuan untuk menghormati alam semesta. Acara tersebut diawali dengan bersih-bersih, memberikan jamuan makanan-makanan dan juga diadakan pagelaran wayang kulit dengan dikolaborasikan pertunjukan barongsai.[15] Pagelaran wayang tersebut juga sempat mengundang dalang yang juga merupakan orang tionghoa peranakan. Bentuk pagelaran wayang itu sendiri sebagai wujud rasa syukur terhadap hari kelahiran nabi khonghucu. Biasanya wayang kulit yang digelar disini itu ganti-ganti, kadang ada yang dari jawa kadang pernah ada dalang yang juga keturunan tionghoa tapi dia juga islam, anak-anaknya juga jago nyinden.[16] Munculnya perpaduan adat istiadat dari kejawen dengan kebudayaan Tionghoa.Dengan demikian, keberadaan budaya sedekah bumi ini telah ada sejak abad 20an. Kebudayaan tersebut akan terus dilestarikan karena mereka masih mempercayai hal-hal yang bersifat mistis apabila tidak dilaksanakan akan mendapatkan musibah sama seperti hal yang dilakukan masyarakat Jawa.

Di Kampung Kapasan sendiri memiliki sebuah punden yang berisikan bekas tebangan pohon trembesi yang telah beruisa ratusan tahun yang kemudian di keramatkan dan diberi cukup atau pelindung dan diberi payung.[17] Punden tersebut sampai sekarang telah dijaga dan dirawat dengan baik sebagai tanda bukti keberadaan dalam memunculkan peradaban kampung Kapasan. Pada nyatanya, tempat punden tersebut identik dengan kepercayaan orang Jawa tetapi masyarakat Tionghoa mampu menerima dan mempraktikkan hal tersebut.

Gambar 2:

Punden yang ada di Kawasan Kapasan

 

 

 

 

 

Sumber: Gita Ayu Cahyaningrum, Dinamika etnis Tionghoa di Kampung Kapasan Dalam Surabaya, (Makalah: Tidak Dipublikasikan), hlm. 8.

Terdapat suatu cungkup yang merupakan suatu kuburan seorang tokoh agama islam. Letak cungkup tersebut terpisah hanya kurang lebih 1.150 meter di seberang Klenteng Boen Bio yang berada di wilayah Kapasan. Cungkup ini bisa dijadikan bukti adanya suatu toleransi agama. Seperti diketahui, ketika memasuki pada akhir abad ke-19 memasuki abad ke-20 menjalankan wijkenstelsel yang membatasi kebebasan bergerak bagi orang Tionghoa. Sekalipun orang Tionghoa ketika itu merasakan perlunya membangun gedung Boen Bio dan membuka sekolah T.H.H.K. untuk menyebarkan ajaran Nabi Kong Hu Cu, tetapi ternyata bersikap toleran terhadap agama lain, yaitu seperti dibuktikan oleh adanya cungkup yang pada hari-har besar agama Islam menarik pengunjung pengikut agama islam yang cukup besar diantaranya kaum ibu peranakan Tionghoa.[18]

  1. 4.        Dinamika Agama Kampung Kapasan: Satu-Satunya Klenteng Umat Khonghucu

Klenteng bukan hanya tempat upacara keagamaan berlangsung, melainkan pula ungkapan lahiriah masyarakat yang mendukung. Maka dari itu, adanya sebuah klenteng menciptakan sebuah dinamika keagamaan masyarakat Kapasan.[19] Di Surabaya sendiri secara garis besar klenteng-klenteng terbagi menjadi tiga jenis. Pertama, klenteng umum yang menganut ajaran Tri Dharma yang memuja dewa-dewi dan nabi-nabi Konghucu, Tao, dan Budha. Klenteng jenis ini adalah Klenteng Hok An Kiong, Klenteng Hong Tek Hian, dan Klenteng Pak Kik Bio. Kedua, klenteng bagi mereka yang memuja satu dewa atau satu nabi selain memuja Tuhan Yang Maha Esa. Contoh klenteng ini adalah Klenteng Boen Bio berada di Jalan Kapasan yang memuja Nabi Khonghucu. Ketiga, klenteng keluarga yang didirikan oleh sebuah keluarga atau marga tertentu untuk menyembah dewa-dewi yang dianggap menjadi pelindung keluarga masing-masing. Contoh klenteng ini adalah Klenteng Hong San Ko dan Soedarono Kwarso.[20]

Awal dari pembangunan klenteng ini masih belum jelas. Diduga bangunan ini ada hubungannya dengan sebuah “shrine” (tempat pemujaan) untuk menghormati Wan Chang “God of Literature”, pada tahun 1884. Dari sinilah diduga timbul nama Wen Chang Ci Boen Tjian Soe, yang berarti klenteng dipersembahkan kepada Wen Chang.[21] Tujuan didirikannya Klenteng Boen Bio adalah untuk menyampaikan ajaran-ajaran Nabi Khonghucu termasuk karya sastra dan adat istiadat Tiongkok yang telah diperbarui sesuai dengan ajaran Nabi Khonghucu. Guna adanya klenteng ini untuk menyebarkan sekaligus memperkuat ajaran Khonghucuisme di kalangan orang Tionghoa Surabaya.[22]

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 3:

Klenteng Boen Bio yang berada di kawasan Kapasan diambil tahun 1918

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sumber: colonialarchitecture.eu/obj

Ajaran Khonghucu juga mementingkan ajaran terhadap bidang pendidikan. Menurut ajaran Khunghucu, pendidikan adalah satu-satunya jalan untuk memajukan pengetahuan, membentuk moral serta etika yang baik. Hal tersebut secara inisiatif untuk membangun sebuah gedung oleh umat Klenteng Boen Bio. Gedung sekolah tersebut secara resmi dibangun pada tanggal 6 Juli 1907 dan diberi nama Tiong Hoa Hak Hauw (THHH). Berdasarkan keputusan rapat tanggal 30 Agustus 1907 mereka mengganti nama sekolah tersebut menjadi Tiong Hoa Hak Tong (THHT) yang akhirnya dikenal dengan nama Tiong Hoa Hwe Koa Kapasan (Kapasan) dan merupakan salah satu dari gedung T.H.H.K Surabaya.[23] Adanya sebuah Klenteng Boen Bio di Kapasan tersebut membantu memajukan peradaban masyarakat Tionghoa di Surabaya terutama di kawasan Kapasan serta perkembangan pendidikan pun ikut terpengaruh.

  1. 5.        Pergulatan Olahraga Kampung Kapasan: Dari Kung Fu, Sepak Bola Hingga Bola Basket

Bagi pandangan orang Tionghoa olahraga sangatlah penting untuk diterapkan di kehidupannya demi menjaga kestabilitas hidup sehat jasmani maupu lahiriah. Mereka memandang bidang olahraga mampu mengangkat derajat yang pada saat pemerintah Hindia Belanda dianggap sebelah mata. Adanya suatu olahraga mampu untuk membantu dalam hal pekerjaan fisik maupun pikiran. Permainan dalam olahraga menurut orang Tionghoa dapat menyeimbangkan sel-sel tubuh dalam bekerja sesuai keadaan normal sehingga terwujud ungkapan pikiran yang jernih terdapat pada badan yang sehat (Mens Sana in Corpore Sano). Olahraga dan garis keturunan menurut orang Tionghoa memiliki hubungan erat dalam pelestarian keturunan. Seseorang yang memiliki badan yang sehat dan kuat dapat mempengaruhi kesuburan, sehingga garis keturunannya tetap terjaga. Garis keturunan yang diinginkan oleh orang Tionghoa adalah keturunan yang memiliki kecerdasan otak dan pikiran yang tajam, sehingga menjadi pintar dan tidak memiliki kecacatan. Garis keturunan yang baik merupakan suatu cita-cita dari setiap orang Tionghoa.[24]

Kampung Kapasan dikenali dengan kampung Kung Fu pada tahun 1920an kemudian mendapat julukan dengan istilah Buaya Kapasan. Istilah Buaya Kapasan adalah sekelompk pengawal barang dagangan yang bermarkas di Kapasan. Mereka terdiri dari para pemuda Tionghoa yang jago  Kung Fu dan disegani di Kawasan Pegirian, Slompretan, Kapasan dan sekitarnya. Terdapat salah satu tokoh ahli Kung Fu asli Kapasan bernama Tan Lie Tung.[25] Menurut penuturan warga Kapasan Dalam tahun 1930, adanya warga Kapasan Dalam yang jago Kung Fu untuk melindungi kampungnya dari warga-warga asing seperti orang Belanda yang sangat suka dengan kecantikan dari wanita-wanita kawasan Kembang Jepun dan Cantikan yang mana wilayah tersebut berdekatan dengan Kapasan sehingga warga Kapasan harus berwaspada untuk menjaga kemanan dan ketertiban kampungnya.[26]

Di sebuah kampung Kapasan terdapat suatu sekolah Tionghoa yaitu T.H.H.K. yang memiliki lapangan olahraga yang cukup luas dan di pojok lapangan olahraga itu terdapat bangunan sederhana, yang dijadikan gedung gymnastiek, yang menjadi pondasi pertama perkumpulan olahraga Tionghoa bernama Sport en Gymnastiekvereniging Tionghoa.[27] Olahraga yang paling terkenal dan mentereng dalam kejuaraan adalah sepak bola.  Sepak bola Tionghoa tersebut memenangi kejuaran cukup banyak. Ketika pada masa puncaknya 1939, pernah meraih beberapa kejuaran yaitu kejuaraan HNVB, kejuaraan SVB dan dilengkapi kejuaran Java Club Kampion.[28]

Pada masa 1930-1934 orang Kapasan patut bangga dengan daerah temapt kelahirannya karena perkumpulan bola basket Kapasan yang bernama “All White” pernah menjadi yang terbaik di Surabaya. Meskipun sebagaian pemainnya bukan penghuni Kapasan, namun mereka berasal dari murid T.H.H.K. Mereka berlatih dan digembleng di Kapasan.[29] Lapangan yang dijadikan tempat latihan masih menggunakan alat yang sederhana. Ring basket yang digunakan dari bahan kayu terus diblongin tengahnya.[30]

  1. 6.        Kesimpulan

Kawasan Kapasan ini dalam mengait tinjauan historisnya tidak bisa terlepaskan dengan sejarah komunitas Tionghoa di Surabaya. Kapasan yang merupakan salah satu daerah pecinan di Surabaya serta letak lokasinya berdekatan dengan Jl. Kembang Jepun, Jl, Karet, Jl. Kopi, Jl. Songojudan, dan Jl. Slompretan. Meskipun belum jelas awal kedatangan masyarakat Tionghoa di Kapasan, namun bisa diyakini sebelum kedatangannya sudah ada persebaran agama islam di wilayah tersebut dengan dibuktikan adanya sebuah cungkup atau makam tokoh islam.

Masyarakat Tionghoa di Kapasan berbaur sangat baik dengan warga pribumi tersebut. Kebanyakan Tionghoa di Kapasan Dalam adalah Tionghoa Peranakan karena adanya suatu perkawinan campuran. Meskipun begitu tradisi dan budaya yang menjelma di Kawasan Kapasan tidak bisa melepaskan unsur-unsur dari ciri khas baik dari orang Tionghoa dan Pribumi. Mereka mengakulturasikan kebudayaannya yang ada dengan mempertahan bentuk keidentitasannya. Maka harmonisasi yang terjalin di kawasan Kapasan masih terjalin sangat baik dan erat.

Klenteng Boen Bio ini yang merupakan awal puncaknya perkembangan Pecinan di Kapasan. Pengaruh dari dinamika umat klenteng tersebut sangatlah vital dalam membangun peradabannya. Tujuan dari pembangunan klenteng ini menyebarkan ajaran Khonghucuisme serta tidak melepaskan aspek pendidikannya juga. Masyarakat Kapasan merasa terbantu dalam memajukan perkembangan pengetahuan karena adanya sebuah sekolahan T.H.H.K. Bagi mereka yang menganut ajaran Khonghucu pendidikan merupakan suatu alat yang penting untuk memajukan pengetahun, serta membentuk moral dan etika dengan baik.

Kawasan Kapasan juga memiliki suatu perkumpulan olahraga yang bisa dikatakan sangat maju. Kapasan dikatakan sebagai Buaya Kapasan karena dikenal adanya perguruan Kung Fu yang sangat disegani oleh orang-orang Belanda dan masyarakat disekitarnya. Orang asing sangat takut untuk memasuki kawasan Kapasan. Kemudian terdapat sebuah perkumpulan sepak bola dan bola basket yang tempat latihannya berada di gedung T.H.H.K yang menjadi pondasi pertama perkumpulan olahraga Tionghoa bernama Sport en Gymnastiekvereniging Tionghoa.

 

DAFTAR PUSTAKA

Aji, R. N. Bayu. Tionghoa Surabaya Dalam Sepak Bola. (Yogyakarta: Ombak).

Akhudiat. 2008 Masuk Kampung Keluar Kampung: Kilas Balik Surabaya. (Surabaya: Henk Publica).

Cahyaningrum, Gita Ayu. Dinamika etnis Tionghoa di Kampung Kapasan Dalam Surabaya.  (Makalah: Tidak Dipublikasikan).

Handinoto. 2015. Komunitas Cina dan Perkembangan Kota Surabaya: Abad XVII Sampai Pertengahan XX. (Yogyakarta: Penerbit Ombak).

________. 1996. Perkembangan Kota dan Arsitektur Kolonial Belanda di Surabaya 1870-1940. (Yogyakarta: Andi Press).

Husein, Sarkawi B. 2010. Negara di Tengah Kota: Politik Representasi dan Simbolisme Perkotaan Surabaya 1930-1960. (Jakarta: LIPI Press).

ISR, Shinta Devi. 2005. Boen Bio Benteng Terakhir Umat Khonghucu. (Surabaya : JP Books).

Koentjaraningrat (ed.). 2014. Manusia dan Kebudayaan di Indonesia. (Jakarta: Djambatan).

Noordjanah, Andjarwati. 2010. Komunitas Tionghoa di Surabaya 1910-1946. (Yogyakarta: Ombak).

Salmon, Cl. dan D. Lombard. 2003.  Klenteng-Klenteng dan Masyarakat Tionghoa di Jakarta. (Jakarta: Yayasan Cipta Lokal Caraka).

Silas, Johan, Dkk. 2012. Kampung Surabaya Menuju Abad 21: Kajian Penataan dan Revitalisasi Kampung di Surabaya. (Surabaya: Badan Perencanaan Pembangunan Kota).

Tjhan, Siauw Giok. 1981. Lima Jaman: Perwujudan Integrasi Wajar. (Amsterdam-Jakrta: Teratai).

Tjiptoatmodjo. FA Sutjipto. 1983. Kota-Kota Pantai di Sekitar Selat Madura Abad XVII Sampai Medio Abad XIX. (Disertasi, Yogyakarta: Universitas Gajah Mada).

Widodo, Dukut Imam. 2013. Hikajat Soerabaia Tempo Doeloe. (Surabaya: Dukut Publishing).

Windiarti, Rissa Dian. 2008. Kompleks Pemukiman Etnis Tionghoa di Surabaya Tahun 1866-1918: Suatu Tinjaun Historis.  (Skripsi, Surabaya: Universitas Airlangga).

Winarni, Retno Dkk. 2015. Cina Republik Menjadi Indonesia, (Yogyakarta: Kurnia Kalam Semesta).

Website

colonialarchitecture.eu/obj, diakses pada tanggal 20 Agustus 2018, pukul 16.00 WIB.

https://id.pinterest.com/pin/386394843021809223/?lp=true, diakses pada tanggal 20 Agustus 2018, pukul 17.05 WIB.

Daftar Informan

  1. Nama          : Dony Djhung.

Alamat        : Jl. Kapasan Dalam II no. 12, Kec. Simokerto, Surabaya.

Usia            : 65 tahun.

Status         : Warga Tionghoa Kapasan Dalam.

  1. Nama          : Gunawan

Alamat        : Jl. Kapasan Dalam 1 no. 10, Surabaya.

Usia            : 62 tahun.

Status         : Warga Tionghoa Kapasan Dalam.

 

  1. Nama          : Sabar Swastono

Alamat        : Jl. Maspati 5 no. 43, Surabaya,

Usia            : 50 tahun.

Status         : Pemerhati Kampung Lawas Maspati.

 



[1] FA Sutjipto Tjiptoatmodjo, Kota-Kota Pantai di Sekitar Selat Madura Abad XVII Sampai Medio Abad XIX, (Disertasi, Yogyakarta: Universitas Gajah Mada, 1983), hlm. 254.

[2] Handinoto, Komunitas Cina dan Perkembangan Kota Surabaya: Abad XVII Sampai Pertengahan Abad XX, (Yogyakarta: Penerbit Ombak, 2015), hlm. 109.

[3] Suku Hok Kian berasal dari daerah Fukien (Fujian) bagian selatan. Di Surabaya mereka menguasai perdagangan besar maupun kecil, terutama beras. Suku Hakka berasal dari provinsi Guangdong (Kwangtung) bagian selatan. Kebanyakan mereka bekerja sebagai petani dan kuli. Suku Kanton asalnya sama dengan Suku Hakka. Mereka lebih dikenal sebagai ahli pertukangan. Sedangkan untuk Suku Teo-Chiu berasal dari pantai selatan Tiongkok, daerah pedalaman Swatow di bagian timur provinsi Guangdong. Mereka memiliki nasib yang sama dengan Suku Hakka sebagai kuli. Shinta Devi ISR, Boen Bio Benteng Terakhir Umat Khonghucu, (Surabaya : JP Books, 2005), hlm.3-4.

[4]Ibid.

[5] Handinoto, Perkembangan Kota dan Arsitektur Kolonial Belanda di Surabaya 1870-1940, (Yogyakarta: Andi Press, 1996), hlm. 91.

[6] Rissa Dian Windiarti, Kompleks Pemukiman Etnis Tionghoa di Surabaya Tahun 1866-1918: Suatu Tinjaun Historis,  (Skripsi, Surabaya: Universitas Airlangga, 2008), hlm. 62.

[7]Shinta Devi Ika Santhi Rahayu, Op.cit., hlm. 12

[8] Wawancara dengan Bapak Sabar (Selaku Pemerhati Kampung Lawas Maspati),Pada Tanggal 18 Mei 2018,  di Jalan Maspati 5, Surabaya.

[9] Akhudiat, Masuk Kampung Keluar Kampung: Kilas Balik Surabaya, (Surabaya: Henk Publica, 2008), hlm. 60; Johan Silas, Dkk, Kampung Surabaya Menuju Abad 21: Kajian Penataan dan Revitalisasi Kampung di Surabaya, (Surabaya: Badan Perencanaan Pembangunan Kota, 2012), hlm 97.

[10] Siauw Giok Tjhan, Lima Jaman: Perwujudan Integrasi Wajar, (Amsterdam-Jakrta: Teratai, 1981), hlm. 12.

[11] Wawancara dengan Bapak Gunawan (Selaku Penghuni Kampung Kapasan Dalam), Pada Tanggal 23 Mei 2018, di Jalan Kapasan Dalam 2, Surabaya.

[12] Andjarwati Noordjanah, Komunitas Tionghoa di Surabaya 1910-1946, (Yogyakarta: Ombak, 2010), hlm. 63.

[13] Retno Winarni, dkk., Cina Republik Menjadi Indonesia, (Yogyakarta: Kurnia Kalam Semesta, 2015), hlm. 98.

[14] Puspa Vasanty, “Kebudayaan Orang Tionghoa di Indonesia”, dalam Koentjaraningrat (ed.), Manusia dan Kebudayaan di Indonesia, (Jakarta: Djambatan, 2014), hlm. 355.

[15] Wawancara dengan Bapak Dony Djhung (Selaku Penghuni Kampung Kapasan Dalam), Pada Tanggal 23 Mei 2018, di Jalan Kapasan Dalam 2, Surabaya.

[16] Gita Ayu Cahyaningrum, Dinamika etnis Tionghoa di Kampung Kapasan Dalam Surabaya, (Makalah: Tidak Dipublikasikan), hlm. 9.

[17] Punden merupakan suatu tempat yang diyakini sebagai cikal bakal masyarakat desa atau tempat keramat, Ibid, hlm. 8.

[18] Siauw Giok Tjhan, Loc.cit.

[19] Cl. Salmon dan D. Lombard, Klenteng-Klenteng dan Masyarakat Tionghoa di Jakarta, (Jakarta: Yayasan Cipta Lokal Caraka, 2003), hlm. 93.

[20] Sarkawi B. Husein, Negara di Tengah Kota: Politik Representasi dan Simbolisme Perkotaan Surabaya 1930-1960, (Jakarta: LIPI Press, 2010), hlm. 144-145.

[21] Handinoto (2015), Op.cit, hlm. 286.

[22] Shinta ISR, Op.cit, hlm. 43.

[23] Ibid, hlm. 71-72.

[24]  R. N. Bayu Aji, Tionghoa Surabaya Dalam Sepak Bola,(Yogyakarta: Ombak, 2010), hlm. 61,

[25] Dukut Imam Widodo, Hikajat Soerabaia Tempo Doeloe, (Surabaya: Dukut Publishing, 2013), hlm. 484.

[26] Wawancara dengan Bapak Dony Djhung, Op.cit.

[27] POR Sport en Gymnastiekvereniging Tionghoa berdiri pada 31 Desember 1908, R.N. Bayu Aji, Op.cit, hlm. 79; Siauw Giok Tjhan, Op.cit, hlm. 11.

[28] Ibid, hlm. 104.

[29] Siauw Giok Tjhan, Op.cit, hlm. 13.

[30] Wawancara dengan Bapak Gunawan, Op.cit.


Kirim Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :