04 January 2019

Sejarah Pengelolaan Sampah Di Surabaya

Sejarah Pengelolaan Sampah di Surabaya

Dalam permasalahan sampah ini, Kota Surabaya dijadikan suatu tempat yang mana kota tersebut memiliki jumlah kepadatan yang tinggi. Ketika memasuki awal abad ke-20 Surabaya merupakan kota yang sangat istimewa karena perindustriannya yang maju. Howard Dick bahkan dengan tegas mengemukakan bahwa industri modern di Indonesia lahir pertama kali di Kota Surabaya. Pada awal abad ke-20, industrialisasi di Kota Surabaya setara dengan Kalkuta, Bombay, Osaka, Singapura, Bangkok, Hongkong, Shanghai dan Tokyo, yang merupakan pusat industri terkemuka di Asia.[1] Maka tak pelak, jika Kota Surabaya ini banyak dihuni oleh penduduk-penduduk yang bermigrasi di wilayah tersebut. Adanya kepadatan penduduk tidak menutup kemungkinan adanya kasus perebutan wilayah pemukiman. Semakin padat wilayah pemukiman, masyarakat yang bermigrasi di Surabaya akan semakin mencari celah lahan untuk dijadikan tempat tinggal. Dari itu semua pastinya akan memunculkan pemukiman kumuh dikarenakan tempat tinggalnya berada disekitaran sungai dan jalan transportasi. Di pemukiman kumuh yang perlu diawasi adalah kondisi kesehatan masyarakatnya. Timbulnya sebuah penyakit dikarenakan adanya pencemaran lingkungan seperti membuang sampah di sungai. Sampah sendiri memiliki permasalahan yang masih sangat sulit untuk diatasi dikarenakan tidak adanya kesadaran membuang sampah di tempatnya dan kepedulian terhadap sampah. Maka dari itu dalam bagian bab ini akan menjelaskan bagaimana tata cara pengelolaan sampah di Kota Surabaya dari masa Hindia Belanda sampai sekarang.

Sampah merupakan problem dalam pencemaran lingkungan karena bisa menimbulkan dampak terhadap kesehatan ataupun timbulnya bencana. Maka masyarakat seharusnya Perlu memiliki kesadaran dalam pengelolaan lingkungan. Menurut Otto Soemarwoto, Pengelolaan lingkungan merupakan suatu usaha secara sadar untuk memelihara atau dan memperbaiki mutu lingkungan agar kebutuhan dasar hidup dapat terpenuhi dengan sebaik-baiknya dikarenakan persepsi tentang kebutuhan dasar, terutama untuk kelangsungan hidup yang manusiawi, tidak sama untuk semua golongan masyarakat dan berubah-ubah dari waktu ke waktu, pengelolaan lingkungan haruslah bersifat lentur.[2] Oleh karena itu permasalahan sampah ini masyarakat dan pemerintah harus memiliki andil dalam mengelola lingkungan demi menjaga kelestariannya.

Menurut UKPPLH (Undang-Undang Ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup) Tujuan adanya pengelolaan lingkungan ada 5 yaitu:

  1. Tercapainya keselarasan hubungan antara manusia dengan lingkungan hidup.
  2. Terkendalinya pemanfaatan sumber daya secara bijaksana.
  3. Terwujudnya manusia Indonesia sebagai pembina lingkungan.
  4. Terlaksananya pembangunan yang berwawasan lingkungan.
  5. Terlindungnya negara dari dampak kegiatan di luar wilayah negara berupa kerusakan dan pencemaran lingkungan.[3]

Maka perlunya pengelolaan sampah ini untuk bisa mengambil manfaat dari adanya sampah yang menumbuk. Idealnya pemanfaatan limbah sampah harus dapat dimusnahkan dengan incenerator kemudian ditimbun tanah dan diuruk melalui proses sanitari landfill atau dilakukan daur ulang. Upaya bertujuan untuk melestarikan lingkungan dan juga mencegah banjir yang sering terjadi di Surabaya.[4] Pada umumnya proses pengelolaan sampah di perkotaan terdiri atas beberapa tahap, antara lain:

  1. Pewadahan di tempat timbulan.
  2. Pengumpulan dari wadah tempat timbulan ke tempat pemindahan (tempat pembuangan sementara).
  3. Pemindahan dari wadahnya di alat pengangkut.
  4. Pengangkut ke tempat pembuangan atau ke tempat pengelolahan.
  5. Pengelolaan sampah untuk dimanfaatkan.
  6. Pembuangan akhir.[5]

Dalam penanganan sampah seperti yang telah dijelaskan diatas maka pengumpulan sampah di perkotaan seperti halnya di Surabaya  ini ditaruh pada tempat-tempat sampah seperti bak sampah, tong sampah dan kotak-kotak sampah dengan menggunakan kendaraan-kendaraan pengangkut misalnya truk, gerobak sampah, kereta dorong, sampah-sampah tersebut diangkut ke lokasi pembuangan atau pemanfaatan sampah.[6] Lokasi pembuangan sampah lebih ditempatkan di tempat yang rendah, kemudian menimbunnya dengan tanah. Terdapat keuntungan apabila sampah ditimbun antara lain:

  1. Tanah yang semula tidak rata, dapat dibuat rata.
  2. Tempat yang semula tidak dapat digunakan, menjadi berfungsi sebagai tempat yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan.
  3. Bila tanah tersebut digunakan sebagai tanah pertanian, taman atau ditanami dengan pohon-pohonan, akan menjadi tempat yang subur sekali.
  4. Akibat-akibat negatif sampah terhadap lingkungan dapat dikendalikan.[7]

Pemerintah Kota Surabaya dalam menata kelola sampah menbagi menjadi tiga tahap yaitu: pengumpulan, pengangkutan , dan pembuangan. Sebelumnya di Surabaya lebih banyak menggunakan tahap pembakaran atau incinerator. Namun, tahap tersebut tidak terlalu efektif dan jaga tidak baik bagi kondisi lingkungan serta kesehatan. Menurut Johan Silas, tahap incinerator ini tak dapat ditiadakan ketika menghapadi permasalahan sampah. Tak semua sampah menghasilkan bahan beracun dan berbahaya dapat dipasrahkan begitu saja kepada incinerator, sebagian perlu dimusnahkan memakai proses kimia khusus dan mahal. Bila tidak, akibatnya akan sangat membahayakan masyarakat.[8]

A. Pengumpulan Sampah

Tahap ini bersifat sementara karena hanya penampungan biasa yang dilakukan oleh masyarakat dengan menampung sampah di tong-tong sampah yangterletak di muka rumah warga. Ketika awal dibentuknya Gemeente Surabaya pada tahun 1906, pemerintah membentuk Reinigingsdient (dinas kebersihan) pada tahun 1916 oleh Mr. A. Meyroos. tahap pengumpulan ini untuk wilayah permukiman terdapat dua macam ketentuan. Pertama, permukiman warga Belanda, Eropa, Tionghoa, Arab dan Timur Asing lainnya pada setiap rumah ditempatkan tong sampah. Ketentuan ini berlaku untuk setiap rumah yang ada di Bovenstad sedangkan di Benedenstad berlaku untuk sebagian besar daerah. Kedua, ketentuan yang dilakukan untuk setiap rumah di Bovenstad dan Benedenstad tidak mungkin dilakukan pada kampung-kampung di kota Surabaya.[9] Alasannya karena rumah-rumah di kampung sangatlah tidak rapi dan akses jalan sulit untuk keluar masuk gerobak sapi. Sejak Surabaya ditetapkan sebagai sebuah kotamadya, setiap pekerjaan pembersihan yang ada di Reinigingsdienst dibagi menjadi 8 seksi yang masing-masing meliputi berbagai wilayah di Surabaya.

Ketika memasuki era pasca proklamasi, Dalam pengumpulan sampah pemerintah Kota Surabaya menyediakan kereta sampah dengan kapasitas masing-masing 2 meter kubik untuk setiap 8 hektar daerah perumahan dan bak sampah hanya berkapasitas masing-masing 6 meter kubik untuk 65 rumah tangga serta trailer sampah untuk melayani 40.000 orang. Tiap-tiap keluarga bertanggung jawab atas kebersihan rumah, saluran air dan jalan umum dimuka rumah masing-masing dengan mengumpulkan sampah dalam bak sampah yang disediakan sendiri dan ditempatkan di halaman sendiri. Dipo dan kontainer sampah di TPS juga disediakan oleh pemerintah untuk melayani 300.000 penduduk dengan luas depo sekitar 200-300 meter persegi sedangkan luas kontainer 60-100 meter persegi.[10] Bahwasanya tahap pengumpulan ini dari berbagai zaman baik kolonial maupun setelahnya masih menggunakan metode yang hampir sama tetapi, semakin majunya zaman, semakin munculnya alat-alat yang modern.

B. Pengangkutan

Alur pengangkutan sampah yang biasanya dilakukan oleh Reinigingsdienst adalah sampah yang telah dikumpulkan di bak sampah rumah, pintu masuk kampung, kontainer atau trailer di pasar diangkut menggunakan gerobak sampah yang ditarik oleh dua ekor sapi dan membawanya langsung ke tempat pembuangan akhir. Di daerah pemukiman di selatan gemeente, yang jarak ke tempat pembuangan sangat jauh, sampah yang dikumpulkan oleh gerobak didiamkan ke trailer untuk menunggu, dan akan diangkut setiap hari oleh truk dan trailer. Bahkan terkadang sampah dibiarkan hingga menumpuk karena tidak adanya kuli yang mengambil hari itu. Sedangkan di bagian timur laut dari
gemeente, dimana peraturan sampah belum dinyatakan berlaku dan yang jarak transportasi juga sangat jauh, sampah langsung diambil oleh salah satu truk dengan trailer dan diangkut ke tempat pembuangan.[11]

            Pada tahun 1966 pengangkutan sampah pertama kali dilaksanakan diberbagai tempat seperti Pasar lama Urip Sumoharjo, Jalan Kenjeran dengan jumlah sampah yang menumpuk kurang lebih 20 meter kubik, sepanjang jalan Ketabang dan markas daerah militer Brawijaya dan yang terakhir di jalan Seng, Pegirian, dan Rajawali. Pada tahap ini membutuhkan sumber daya manusia yang banyak dan juga alat transportasi. Namun di Surabaya sampah sangatlah banyak sehingga tempat dipo tidak sanggup untuk menampungnya yang pada tahun tersebut hanya tersedia dua dipo.[12] Maka sekarang, dibuatkan beberapatempat Dipo salah satunya di Jambangan untuk menyelesaikan permasalahan ini.

C. Pembuangan

Ketika masa kolonial teknik metode pembuangan dilakukan dengan cara menimbun di lapangan terbuka. Pada tahun 1916, terdapat pembukaan daerah pembuangan sampah baru yang terletak di atas sebidang tanah di utara Jalan Griseeschen sekitar 12 bow dan gemeente membelinya senilai 4. 320 gulden. Pembukaan ini disebabkan oleh adanya suatu pekerjaan gemeente werken di sepanjang Jalan Westerbuiten, sehingga harus mengosongkan tempat pembuangan sampah di Boejoen dan membeli tempat lain untuk penimbunan sampah. Selanjutnya pembukaan daerah untuk tempat pembuangan akhir terus dilakukan. Pada tahun 1927, gemeente melalui surat keputusan walikotanya menetapkan pada tanggal 11 Mei 1927 No. 2007/96 dioperasikanlah sebuah tempat penimbunan sampah baru yang terletak di desa Wonokoesoemo sekitar 21 bouw. [13]Semakin banyaknya sampah yang menumpuk, maka dibuatlah tempat untuk menimbun sampah di berbagai wilayah.

Berbeda sistem yang dilakukan ketika terjadi pasca kemerdekaan. Pemerintah Surabya dalam mengatasi tahap ini membangun TPA (Tempat Pembuangan Akhir). Namun awal pendirian ini menimbulkan polemik sosial dengan adanya konflik antar warga dengan dinas kebersihan yang akhirnya hanya menciptakan satu TPA saja. Pada tahun 1956 mulai didirikan pusat-pusat penimbunan sampah di Surabaya yang pertama berada di Jojoran dengan luas 5 hektar, Dupak dengan luas 10 hektar pada tahun 1963, Menur dengan luas 14 hektar, Jagir dengan luas 7 hektar, Wonokusumo dengan luas 4 hektar, Wonosari dengan luasnya 8 hektar pada tahun 1972, Kalianak dengan luas 7 hektar, dan Asem rowo dengan luas 15,2 hektar. Sampai sekarang tempat TPS tersebut masih digunakan.[14]

Daftar Pustaka

Basundoro, Purnawan. 2012. Pengantar Sejarah Kota. (Yogayakarta: Ombak).

Hadiwiyoto, Soewedo. 1983. Penanganan dan Pemanfaatan Sampah. (Jakarta: Idayu).

Istiqomah. 2008. Problem Sampah Surabaya Tahun 1966-1978. (Skripsi, Surabaya: Universitas Airlangga).

Kastaman, Roni dan Ade Moetangad Krmadibrata. 2007. Sistem Pengelolaan Reaktor Sampah Terpadu Silarsatu. (Bandung: Humaniora).

Ni’mah, Nur Lailatun. 2016. Pengelolaan Sampah Kota Surabaya 1916-1940. (Skripsi, Surabaya: Universitas Airlangga).

Romdiati, Haning, Mita Noveria, Ade Latifa dan Bayu Setiawan. 2007. Mobilitas Penduduk Temporer di Permukiman Kumuh Kota Surabaya: Pengelolaan dan Konteksnya Terhadap Penataan Lingkungan. (Jakarta: LIPI Press).

Siahaan, NHHT. 1987. Ekologi Pembangunan dan Hukum Tata Lingkungan. (Jakarta: Erlangga).

Silas, Johan. 1996. Kampung Surabaya Menuju Metropolitan. (Surabaya: Yayasan Bhakti dan Surabaya Post).

Soemarwoto, Otto. 1994. Ekologi, Lingkungan Hidup dan Pembangunan. (Jakarta: Djambatan).



[1] H. W. Dick, “Industrialisasi Abad ke-19: Sebuah Kesempatan yang Hilang”, Dikutip oleh Purnawan Basundoro, Pengantar Sejarah Kota, (Yogayakarta: Ombak, 2012), hlm. 234.

[2] Otto Soemarwoto, Ekologi, Lingkungan Hidup dan Pembangunan, (Jakarta: Djambatan, 1994), hlm. 76.

[3] NHT. Siahaan, Ekologi Pembangunan dan Hukum Tata Lingkungan, (Jakarta: Erlangga, 1987), hlm. 93.

[4] Haning Romdiati, Mita Noveria, Ade Latifa dan Bayu Setiawan, Mobilitas Penduduk Temporer di Permukiman Kumuh Kota Surabaya: Pengelolaan dan Konteksnya Terhadap Penataan Lingkungan, (Jakarta: LIPI Press, 2007), hlm. 136.

[5] Roni Kastaman dan Ade Moetangad Krmadibrata, Sistem Pengelolaan Reaktor Sampah Terpadu Silarsatu, (Bandung: Humaniora, 2007), hlm. 21.

[6] Soewedo Hadiwiyoto, Penanganan dan Pemanfaatan Sampah, (Jakarta: Idayu, 1983), hlm. 29.

[7] Ibid, hlm. 44.

[8] Johan Silas, Kampung Surabaya Menuju Metropolitan, (Surabaya: Yayasan Bhakti dan Surabaya Post, 1996), hlm. 203.

[9] Nur Lailatun Ni’mah, Pengelolaan Sampah Kota Surabaya 1916-1940, (Skripsi, Surabaya: Universitas Airlangga, 2016), hlm. 121.

[10] Istiqomah, Problem Sampah Surabaya Tahun 1966-1978, (Skripsi, Surabaya: Universitas Airlangga, 2008), hlm. 48.

[11] Nur Lailatun Ni’mah, Op.cit, hlm. 127.

[12] Istiqomah, Op.cit, hlm. 49.

[13] Nur Lailatun Ni’mah, Op.cit, hlm. 130.

[14] Istiqomah, Op.cit, hlm. 52.


Kirim Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :