04 January 2019

Selayang Pandang Negara Mauritania

Selayang Pandang Mauritania

Luas wilayah dari Mauritania 1.030.700 km2 yang seluruhnya merupakan padang gurun kecuali tepi utara Sungai Senegal di batas wilayah selatannya. Pada tahun 1970, 70% rakyat Mauritania hidup nomaden, tetapi kekeringan dan urbanisasi membuat jumlah mereka merosot menjadi kurang dari 20% saat ini. Dalam pembagian populasi Mauritania ke dalam tiga bagian yang setara—Moor kulit putih, Moor kulit hitam, orang Afrika Sub-Sahara. Arab digunakan sebagai bahasa resmi dengan dialek Hassaniya digunakan sebagai bahasa sehari-hari oleh dua pertiga populasi. Bahasa Prancis merupakan bahasa pemerintahan dan perdagangan. Mauritania secara resmi merupakan sebuah negara Republik Islam dengan menggabungkan beberapa tradisi hukum yang mencakup hukum Syariat. Secara resmi undang-undang menyatakan bahwa Islam adalah agama rakyat dan agama negara. Mayoritas rakyat menganut Islam Sunni moderat yang dipengaruhi oleh praktik-praktik magis. Tekanan sosial yang sangat besar bagi siapa pun yang berpindah ke agama lain.[1]

Gambar: Bentuk bendera dari Negara Mauritania

 

Gambar: Peta dari Benua Afrika

 

A. Sejarah Negara Mauritania Dari Masa Kuno, Kolonisasi hingga Merdeka

Mauritania adalah sebuah negara yang terletak di bagian barat laut Afrika. Pesisirnya menghadap ke Samudra Atlantik, di antara Sahara Barat di sebelah utara dan Senegal di selatan. Suku-suku kuno Mauritania adalah suku Berber. Berber adalah nama etnis untuk orang-orang yang berasal dari Afrika Utara atau Maghrib (istilah Arab yang berarti “tanah matahari terbenam”). Orang Berber telah menetap di tanah Afrika sejak milenium 1 SM. Mereka memiliki kesamaan linguistik berdasarkan bahasa tak tertulis yang disebut Tamazight. Meskipun mereka memiliki ciri budaya yang sama, Berber membedakan satu sama lain melalui berbagai model kehidupan yang berbeda-beda: seminomadik atau nomaden (untuk orang-orang dari Gurun Sahara, yang disebut Targis atau Touareg.[2] Dalam masalah terkait bentuk budaya dulu, terakhir para ahli giat mengadakan penelitian dan penggalian di berbagai daerah misalnya Mauritania, Lembah sungai Niger, Zambesi dan lainnya. Dan sebagai hasilnya ternyata Afrika memiliki suatu yang bisa dibanggakan, berupa bangunan maupun karya seni lainnya. Tidak semua orang Afrika peradabannya rendah dan terbelakang, sebagai contoh beberapa kelompok masyarakat agraris di daerah Afrika Barat mempunyai corak budaya yang cukup tinggi.[3]

Pada abad ke-3 dan 4, suku Berber terpaksa mengembara ke arah selatan guna menghindari perang di daerah utara, dan lama-kelamaan mereka membentuk sebuah koloni yang dikenal sebagai Sanhadja. Mereka berdagang dari daerah utara ke selatan (Timbuktu, Mali). Emas, budak, dan gading mereka tukar dengan garam, tembaga, dan pakaian. Rute perdagangan ini pada akhirnya dijadikan rute penyebaran Islam di kawasan Afrika Barat, termasuk Mauritania. Para pedagang Muslim dan perajin setempat kemudian membentuk semacam persaudaraan melalui gerakan sufi (tarekat), yang memang memainkan peran penting dalam ekspansi awal Islam.[4] Memasuki abad ke 9-10, Kekaisaran Ghana memiliki kekuasaan ibukotanya di Mauritania Barat Daya naman ketika tahun 1076 prajurit Berber Almoravid berhasil mengalahkan Kekaisaran Ghana.[5]

Pada Abad Pertengahan, Mauritania dianggap sebagai tempat lahirnya gerakan Almoravid, yang menyebarkan Islam ke seluruh wilayah dan untuk sementara menguasai bagian Spanyol yang mayoritas Islam. Pedagang Eropa mulai menunjukkan minat di Mauritania pada abad ke-15, dan pada tahun 1814 pemerintahan Prancis secara langsung mengatur dan mengkoloninya.[6] Pada 1898 Prancis berhasil mengambil hati bangsa Moor yang mayoritas paling banyak di wilayah tersebut. Pada tahun 1904 koloni-koloni Prancis di Afrika Barat, termasuk beberapa di Sahara selatan, secara formal diorganisir menjadi sebuah unit administratif besar yang dikenal sebagai Perancis Barat Afrika (Senegal, Sudan Prancis (sekarang Mali), Guinea, Pantai Gading, Dahomey, Upper Volta (sekarang Burkina Faso), Niger, dan Mauritania).[7] Namun koloni Prancis di Mauritania tidak bisa sepenuhnya memegang kekuasaannya, sehingga mereka menggunakan sistem direct rule yaitu sistem politik asimilasi. Koloni Prancis juga menggunakan sistem yang telah menjadi tradisi negara Mauritania yaitu sistem hukum Islam. Para administrator kolonial sangat bergantung pada para pemimpin agama Islam dan kelompok-kelompok pejuang tradisional untuk mempertahankan kekuasaan mereka dan melaksanakan kebijakan-kebijakan mereka. Selain itu, sedikit upaya dilakukan untuk mengembangkan ekonomi negara sehingga negara ini tidak dapat berkembang.

Setelah Perang Dunia II, Mauritania, bersama dengan jajahan Prancis di Afrika Barat, memutuskan untuk terlibat dalam serangkaian reformasi sistem kolonial Perancis, yang akhirnya berpuncak pada kemerdekaan pada tahun 1960. Reformasi ini adalah bagian dari kebijakan resmi asimilasi dan aturan langsung yang mendukung desentralisasi administrasi dan otonomi internal yang memberikan pelatihan bagi para pemimpin politik dan membangkitkan kesadaran politik di antara rakyat. Tepatnya pada 28 November 1960, Mauritania meraih kemerdekaan dan menjadi negara yang independen dengan ketentuan konstitusi. Islam adalah agama resmi negara, tetapi negara ini menjamin kebebasan beragama bagi semuanya. Bahasa Arab adalah bahasa resmi serta Fula, Soninke, dan Wolof adalah bahasa nasional. Ibukota, Nouakchott, terletak di bagian barat daya negara.[8]

B. Sepak Terjang Jejak Islam di Negara Mauritania

Islam pertama kali masuk ke selatan Afrika Barat, termasuk Mauritania, melalui pedagang dan pengrajin Muslim. Mereka kemudian mendirikan tarekat. Posisi geografis Mauritania menjadikan negara ini sebagai titik pertemuan antara budaya Arab dan Afrika. Interaksi antara dua budaya ini telah memunculkan ketegangan dalam masyarakat Mauritania sehingga menghasilkan tradisi politik intoleransi dan penindasan di negara ini.[9]

Puluhan ribu tahun lalu, Mauritania merupakan wilayah yang subur dan menghijau. Suku Berber dan suku Moor hidup berdampingan di wilayah tersebut. Pada abad ke-3 dan 4, suku Berber terpaksa mengembara ke arah selatan guna menghindari perang di daerah utara, dan lama-kelamaan mereka membentuk sebuah koloni yang dikenal sebagai Sanhadja. Mereka berdagang dari daerah utara ke selatan (Timbuktu, Mali). Emas, budak, dan gading mereka tukar dengan garam, tembaga, dan pakaian. Rute perdagangan ini pada akhirnya dijadikan rute penyebaran Islam di kawasan Afrika Barat, termasuk Mauritania. Para pedagang Muslim dan perajin setempat kemudian membentuk semacam persaudaraan melalui gerakan sufi (tarekat), yang memang memainkan peran penting dalam ekspansi awal Islam. Islam berkembang di Mauritania secara sempurna ketika Dinasti Almoravids (al-Murabitun) menguasai Mauritania pada abad ke-11, dan berhasil menaklukkan Sudanese Kingdom dari Ghana. Daerah kekuasaan Dinasti Almoravids akhirnya menyebar hingga ke seluruh kawasan Afrika Utara. Namun, pada akhirnya, Almoravids ditaklukan oleh Bani Hassaniyah pada abad ke-16, dalam peperangan yang terkenal dengan perang 30 tahun di Mauritania pada 1644 sampai dengan 1674.[10]

Tasawuf dan tarekat memainkan peran dalam ekspansi awal Islam, hal ini berlangsung tidak sampai abad ke-19. Tarekat menyebarkan Islam secara damai ke daerah-daerah. Sikap antipati terhadap kolonial menumbuhkembangkan tarekat dan mendongkrak pengaruh tarekat. Dua tarekat sufi terbesar di Mauritania adalah Tarekat Tijaniyah dan Qadiriyyah. Namun, tarekat-tarekat kecil juga ada. Seperti Syadziliyah yang berpusat di Boumdeit, Tagant, dan Goudfiya. Pengikut tarekat ini juga ditemukan di daerah Tagant, Adrar, Hodh ech Chargui, dan Hodh el Gharbi. Penyebaran Islam ke arah barat dan selatan Afrika melalui pendekatan kultural. Dahulu, warga Mauritania memiliki kepercayaan tradisional dengan menyembah roh nenek moyang. Melalui pendekatan kultural, tradisi kepercayaan ini dapat beralih ke ajaran tauhid.[11]

Muslim Mauritania merupakan Muslim Sunni yang bermazhab Maliki. Sejak kemerdekaan pada 1960, Mauritania telah menjadi republik Islam. Piagam Konstitusi 1985 menyatakan Islam sebagai agama negara, dan hukum yang berlaku adalah hukum syariah. Ada tingkat kabinet Departemen Kebudayaan dan Orientasi Islam dan Dewan Tinggi Islam, yang terdiri dari enam imam, yang atas permintaan pemerintah, menyarankan adanya kesesuaian legislasi ajaran Islam. Peradilan terdiri dari satu sistem pengadilan dengan sistem hukum yang sesuai dengan prinsip-prinsip syariat (hukum Islam). Meskipun hampir semua Mauritania adalah Muslim, tingkat religiusitasnya bervariasi. Ada Muslim liberal, moderat, dan jihadis di negeri ini.[12]

Sejak awal kemerdekaan sampai dengan tahun 1978, Republik Islam Mauritania dipimpin oleh presiden dari kalangan sipil. Namun, sebuah kudeta militer pada 1978 menggulingkan Daddah. Kolonel Mohamed Ould Khouna Haidalla, salah satu pengkudeta, menjadi kepala pemerintah pada 1980 dan menerapkan hukum Syariah. Pada 2005, Maaouya Ould Sid'Ahmed Taya, penerus Ould Haidalla, kembali digulingkan dalam kudeta militer.[13]

Di Mauritania, LSM agama dan sekuler diberikan pembebasan pajak. Pemerintah tidak mewajibkan kelompok keagamaan mendaftar. Namun, LSM lainnya, termasuk LSM kemanusian dan LSM yang berafiliasi dengan kelompok agama, harus mendaftar ke Kementerian Dalam Negeri. Sumbangan dana dari Arab Saudi dan negara teluk lainnya melahirkan beberapa sekolah-sekolah Islam dan Badan Pusat Amal di seluruh negeri. Namun, sebagian besar ditutup oleh pemerintah pada 2003. Pendidikan agama menjadi pelajaran wajib di Mauritania. Namun, jumlah jam belajar agama di sekolah umum biasanya lebih sedikit dibandingkan sekolah keagamaan. Masjid dan sekolah Alquran biasanya didanai secara pribadi oleh kelompok Muslim atau melalui donatur lainnya. Namun, gaji untuk imam Masjid Central di ibu kota Nouakchott disediakan oleh pemerintah.[14] Terdapat Sensus penduduk tahun 2004 menunjukkan bahwa 100 persen penduduk Mauritania beragama Islam. Sama halnya dalam historisnya, mereka masih mengikuti mazhab Maliki, salah satu dari empat mazhab utama yang dikenal dalam ajaran Islam.[15]

C. Komoditi Sumber Daya Alam Di Negara Mauritania

Mayoritas penduduk Mauritania bergantung pada sektor pertanian dan peternakan untuk mata pencaharian. Pada dekade 1970an dan 1980an sebagian besar petani menggembara ke kota-kota karena Mauritania mengalami kekeringan terus-menerus. Mauritania berpusat pada sektor produksi mineral, pertanian, perikanan, dan sektor jasa. Penambangan bijih besi adalah yang paling banyak dicari, dan endapan bijih besi kadar tinggi umumnya ditemukan di provinsi utara Tiris Zemmour, dekat perbatasan Sahara Barat. Mauritania memiliki sumber daya maritim yang kaya tetapi terancam oleh eksploitasi berlebihan. Industri perikanan menghasilkan sebagian besar pendapatan bagi negara ini.[16]

Gambar: Tiris Zemmour sebagai pusat penambangan bijih besi

 

Sektor penambangan di Mauritania memiliki kelimpahan sumber daya alam antara lain berasal dari bijih besi, gypsum, tembaga, fosfat, berlian, dan emas. Bahkan sektor perikanan tidak bisa dipisahkan, sebagaian masyarakatnya yang berada di pesisir menjadikan nelayan sebagai profesi. Kegiatan di sektor perikanan difokuskan pada wilayah Nouadhibou. Mauritania bergantung pada industri minyak hilirnya dan memiliki kilang operasi di Nouadhibou. Mauritania menjadi produsen minyak yang terbesar  dikarenakan suksesnya  hasil pengeboran dari Chinguetti ke lepas pantai. Perairan lepas pantai Mauritania telah lama diminati perusahaan minyak internasional hal ini menyebabkan banyaknya negara luar ingin mengeksploitasi negara Mautinaia. Masalah sektor perairan Mauritania, Mali dan Senegal mendirikan sebuah organisasi untuk pengembangan Sungai Senegal pada tahun 1972.[17]

Gambar: Kawasan Nouadhibou, Mauritania

 

D. Kelaparan Menjadikan Permasalahan Utama di Mauritania

Setelah mencari beberapa referensi dari sebuah berita maka penulis akan memaparkan permasalahan kelaparan merupakan kasus yang sering terjadi di Mauritania. Mauritania dikenal sebagai negara yang tropis sehingga memunculkan kelaparan ketika musim panas. Dilansir dari berita CNN[18], Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) menyatakan lebih dari lima juta orang di wilayah Sahel, Afrika Barat memerlukan bantuan makanan untuk mencegah kelaparan akibat kekeringan yang terus berlanjut. Enam negara di Sahel[19], wilayah di bawah Gurun Sahara, terancam bahaya kelaparan terburuk akibat minimnya curah hujan. Wilayah-wilayah yang paling berisiko antara lain Mali, Niger, Burkina Faso, Chad, Mauritania Selatan dan Senegal Utara. Maka PBB berencana untuk mengirimkan bantuan dana baik berupa makanan pokok ataupun kebutuhan lainnya.

Dalam Laporan FAO tersebut menyatakan 40,2 juta orang menderita gizi buruk dan kelaparan. Sementara itu, 55,2 juta orang lagi menghadapi kondisi rawan pangan parah akibat konflik di Wilayah NENA. Kebanyakan Negara NENA adalah negara Arab dan Timur Tengah, termasuk Mesir --tempat Markas Regional FAO berada. Negara yang termasuk NENA antara lain ialah Suriah, Irak, Yaman, Libya, Sudan, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, Bahrain, Qatar, Oman, Yordania, Lebanon, Mauritania, Tunisia, Aljazair, Maroko dan Iran.[20]

Lowcock mengatakan salah satu penyebab krisis pangan yang terjadi di sejumlah negara Afrika adalah kekeringan, konflik, dan harga pangan yang kemudian menjadi tinggi. Jutaan orang, khususnya di Sahel menjadi kekurangan gizi dan ketidakamanan lebih lanjut tanpa bantuan segera. Sementara itu, di Burkina Faso jumlah orang yang mengalami kekurangan pangan dilaporkan meningkat tiga kali lipat dibanding tahun lalu. Keadaan darurat juga dialami di Mali, serta tingkat kekurangan gizi akut yang parah dan tertinggi sejak 2008 adalah di Mauritania.[21]

Palang Merah Internasional bahkan memperkirakan jumlah orang yang mungkin menghadapi kekurangan pangan bisa mencapai 1, 2 juta dalam bulan Januari. Mauritania mengalami dampak negatif kekeringan, panen yang buruk, dan naiknya harga pangan, sehingga puluhan ribu orang tidak mampu membeli pangan yang langka di pasar. Palang Merah perlu mencari dana lebih dari 2 juta dolar untuk segera mendapatkan pangan sebanyak mungkin sebelum krisis itu mengancam Mauritania. Sallabank mengatakan prioritas Palang Merah Bulan Sabit Mauritania adalah menyediakan gizi tambahan, seperti beras dan sereal bagi anak-anak yang menderita kekuarangan gizi parah.[22] Adanya program yang dilakukan oleh Palang Merah untuk mencegah masyarakat Mauritania agar tidak bergantung pada curah hujan.

Maka dari pemaparan permasalahan diatas, bahwa negara-negara yang berada di Afrika bagian wilayah Padang Gurun tidak lazim jika menderita kelaparan rakyatnya. Ketika pada masa musim panas mereka mengalami krisis air dan kekurangan makanan karena curah hujan yang berkurang namun ketika masa musim hujan permasalahan krisis air dan kekurangan makanan dapat terminimalisir. Kasus ini selalu terjadi di benua Afrika sehingga menjadi sorotan media dan juga PBB. Mauritania yang berada di wilayah Gurun ini juga termasuk wilayah yang mengalami krisis kelaparan.

Gambar: Masyarkat di Afrika yang mengalami Kelaparan

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Almas, Puti dan Andi Nur Aminah. PBB: 6 Juta Orang Alami Krisis Pangan di Afrika. https://www.republika.co.id. Diakses Pada 22 Oktober 2018, Pukul 11.10 WIB.

Anonim. Kekeringan di Afrika Barat, 5 Juta Orang Terancam Kelaparan.  www.cnnindonesia.com. Diakses pada 21 Oktober 2018, Pukul 10.52 WIB.

Anonim. Konflik Afrika, 40 Juta Warga Kelaparan. http://krjogja.com. Diakses Pada 22 Oktober 2018, Pukul 10.59 WIB.

Anonim. Mauritania Country Profile. https://www.bbc.com/news/world-africa. Diakses pada 21 Oktober 2018, Pukul 12.18 WIB.

Anonim. Penjajahan Bangsa Perancis di Afrika. https://www.sejarahumum.com. Diakses pada 21 Oktober 2018, Pukul 12.52 WIB.

Anonim. Profil Dari Negara Mauritania. misi.co. Diakses Pada 22 Oktober 2018, Pukul 10.40 WIB.

Department of Defense Intelligence Production Program. 2017. Mauritania Country Handbook, (USA: DoDIPP).

Diallo, Garba. 1993. Mauritania – The Other Apartheid, (Makalah: Dipublikasikan).

Fathoni, Rifai Shodiq. Etnis Berber. http://wawasansejarah.com/etnis-berber/. Diakses pada 20 Oktober 2018, Pukul 22.20 WIB.

Marniati dan Agung Sasongko. Islam di Mauritania Jaga Keutuhan Nasional. https://www.republika.co.id. Diakses pada 21 Oktober 2018, Pukul 21.50 WIB.

Marniati dan Agung Sasongko. Islam Masuk ke Mauritania Berkat Jasa Para Sufi Tarekat. https://www.republika.co.id. Diakses pada 21 Oktober 2018, Pukul 21.35 WIB.

Riyadi. 2016. Sejarah Afrika Dari Masa Kuno Hingga Modern. (Surabaya: Unesa Press).

Sasongko Agung. 100 Persen Penduduk Mauritania Beragama Islam. https://www.republika.co.id. Diakses pada 21 Oktober 2018, Pukul 21.57 WIB.

Sasongko, Agung. Jasa Tarekat dan Kemerdekaan Mauritania. https://www.republika.co.id. Diakses pada 20 Oktober 2018, Pukul 22.31 WIB.

Sasongko, Agung. Jejak Islam di Mauritania. https://www.republika.co.id. Diakses pada 21 Oktober 2018, Pukul 21.45 WIB.

Schlein, Lisa. Palang Merah Internasional: Mauritania Terancam Bencana Kelaparan Tahun Ini. https://www.voaindonesia.com. Diakses Pada 22 Oktober 2018, Pukul 11.20 WIB.

Stewart Charles C., Charles Henri Toupet, Alfred G. Gerteiny, dan Hubert Jules Deschamps, Mauritania, https://www.britannica.com, Diakses pada 21 Oktober 2018, Pukul 13.09 WIB.



[1] Profil Dari Negara Mauritania, misi.co, Diakses Pada 22 Oktober 2018, Pukul 10.40 WIB.

[2]  Rifai Shodiq Fathoni, Etnis Berber, http://wawasansejarah.com/etnis-berber/, Diakses pada 20 Oktober 2018, Pukul 22.20 WIB.

[3] Riyadi, Sejarah Afrika Dari Masa Kuno Hingga Modern, (Surabaya: Unesa Press, 2016), hlm. 4

[4] Agung Sasongko, Jasa Tarekat dan Kemerdekaan Mauritania, https://www.republika.co.id, Diakses pada 20 Oktober 2018, Pukul 22.31 WIB.

[5] Mauritania Country Profile, https://www.bbc.com/news/world-africa, Diakses pada 21 Oktober 2018, Pukul 12.18 WIB.

[6] Department of Defense Intelligence Production Program, Mauritania Country Handbook, (USA: DoDIPP, 2017), hlm. 40.

[7] Penjajahan Bangsa Perancis di Afrika, https://www.sejarahumum.com, Diakses pada 21 Oktober 2018, Pukul 12.52 WIB.

[8] Charles C. Stewart, Charles Henri Toupet, Alfred G. Gerteiny, dan Hubert Jules Deschamps, Mauritania, https://www.britannica.com, Diakses pada 21 Oktober 2018, Pukul 13.09 WIB.

[9] Garba Diallo, Mauritania – The Other Apartheid, (Makalah: Dipublikasikan, 1993), hlm. 12.

[10] Agung Sasongko, Op.cit.

[11] Marniati dan Agung Sasongko, Islam Masuk ke Mauritania Berkat Jasa Para Sufi Tarekat, https://www.republika.co.id, Diakses pada 21 Oktober 2018, Pukul 21.35 WIB.

[12] Agung Sasongko, Jejak Islam di Mauritania, https://www.republika.co.id, Diakses pada 21 Oktober 2018, Pukul 21.45 WIB.

[13] Marniati dan Agung Sasongko, Op.cit.

[14] Marniati dan Agung Sasongko, Islam di Mauritania Jaga Keutuhan Nasional, https://www.republika.co.id, Diakses pada 21 Oktober 2018, Pukul 21.50 WIB.

[15] Agung Sasongko, 100 Persen Penduduk Mauritania Beragama Islam, https://www.republika.co.id, Diakses pada 21 Oktober 2018, Pukul 21.57 WIB.

[16] Garba Diallo, Op.cit, hlm. 52.

[17] Ibid, hlm. 53.

[18] Kekeringan di Afrika Barat, 5 Juta Orang Terancam Kelaparan, www.cnnindonesia.com, Diakses pada 21 Oktober 2018, Pukul 10.52 WIB.

[19] Sahel merupakan zona perbatasan di Afrika antara Sahara ke utara dan daerah yang lebih subur di selatan, dikenal sebagai Sudan.

[20] Konflik Afrika, 40 Juta Warga Kelaparan, http://krjogja.com, Diakses Pada 22 Oktober 2018, Pukul 10.59 WIB.

[21] Puti Almas dan Andi Nur Aminah, PBB: 6 Juta Orang Alami Krisis Pangan di Afrika, https://www.republika.co.id, Diakses Pada 22 Oktober 2018, Pukul 11.10 WIB.

[22] Lisa Schlein, Palang Merah Internasional: Mauritania Terancam Bencana Kelaparan Tahun Ini, https://www.voaindonesia.com, Diakses Pada 22 Oktober 2018, Pukul 11.20 WIB.


Kirim Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :